GARIS NARASI – Di tengah eskalasi global yang kian memanas, dunia kini tertuju pada perairan Afrika Selatan. Tiga kekuatan besar yang sering dianggap sebagai penantang dominasi Barat Rusia, China, dan Iran resmi memulai latihan angkatan laut gabungan berskala besar. Latihan yang diberi nama sandi “Will for Peace 2026” ini tidak hanya sekadar rutinitas militer, melainkan sebuah pesan simbolis di tengah ketegangan yang melibatkan Amerika Serikat (AS) di berbagai belahan dunia.
Lokasi Strategis di Titik Temu Dua Samudra
Latihan ini dipusatkan di lepas pantai Cape Town, tepatnya di sekitar pangkalan angkatan laut Simon’s Town. Lokasi ini sangat krusial karena merupakan titik temu antara Samudra Hindia dan Samudra Atlantik. Kehadiran kapal-kapal perang canggih dari ketiga negara tersebut di wilayah kedaulatan Afrika Selatan telah memicu perdebatan diplomatik yang sengit.
China bertindak sebagai pemimpin latihan dalam operasi yang dijadwalkan berlangsung dari 9 hingga 16 Januari 2026. Armada yang dikerahkan tidak main-main. China mengirimkan kapal perusak berpeluru kendali kelas Type 052D bernama Tangshan bersama kapal pendukung logistik Taihu. Sementara itu, Rusia mengerahkan kapal korvet Stoikiy dari Armada Baltik mereka, lengkap dengan helikopter antikapal selam. Iran, yang baru-baru ini memperkuat kehadirannya di laut internasional, mengirimkan Armada ke-103 untuk bergabung dalam formasi tempur tersebut.
Konteks Geopolitik: Poros Perlawanan Maritim
Tensi panas ini dipicu oleh rentetan peristiwa di awal tahun 2026. Salah satu pemicu utama adalah langkah agresif Amerika Serikat di bawah pemerintahan Donald Trump yang melakukan intervensi terhadap Venezuela, termasuk rencana penyitaan kapal tanker minyak. Aliansi Rusia, China, dan Iran melihat latihan ini sebagai langkah untuk memastikan “keamanan jalur pelayaran vital” dari apa yang mereka sebut sebagai tindakan sepihak Barat.
Selain itu, latihan ini dilakukan di bawah payung BRICS Plus. Sejak Iran resmi bergabung menjadi anggota penuh BRICS pada 2024, kerja sama militer antara negara-negara ini semakin terlembaga. Bagi Rusia, latihan ini adalah bukti bahwa mereka tidak terisolasi meski perang di Ukraina masih berlanjut. Bagi China, ini adalah proyeksi kekuatan laut jauh (blue-water navy), dan bagi Iran, ini adalah validasi atas statusnya sebagai pemain kunci di panggung keamanan global.
Fokus Latihan: Lebih dari Sekadar Anti-Bajak Laut
Secara resmi, Afrika Selatan menyatakan bahwa latihan ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan anti-pembajakan, pencarian dan penyelamatan (SAR), serta koordinasi antarangkatan laut. Namun, para pengamat militer mencatat adanya simulasi yang lebih kompleks, termasuk:
- Serangan Terhadap Target Maritim: Melatih sinkronisasi tembakan jarak jauh antararmada.
- Pengendalian Kerusakan: Menghadapi skenario konflik terbuka di laut lepas.
- Pertukaran Informasi Intelijen: Membangun sistem komunikasi terpadu yang tidak bergantung pada teknologi Barat.
Reaksi Keras dari Washington dan Oposisi Internal
Kehadiran militer “Tiga Naga” di Afrika Selatan memicu kecaman keras dari Washington. Pemerintah AS menyebut langkah Afrika Selatan sebagai bentuk keberpihakan kepada “negara-negara nakal” dan aktor yang terkena sanksi internasional. Hubungan diplomatik antara Pretoria dan Washington kini berada di titik nadir, terutama setelah AS mengancam akan meninjau kembali bantuan ekonomi jika Afrika Selatan terus mempererat ikatan militer dengan Moskow dan Teheran.
Di dalam negeri Afrika Selatan sendiri, partai oposisi Aliansi Demokratik (DA) mengkritik keras Presiden Cyril Ramaphosa. Mereka menganggap latihan ini mencoreng kebijakan netralitas negara dan menjadikan Afrika Selatan sebagai “bidak” dalam permainan kekuatan besar dunia.
Menuju Orde Multipolar?
Latihan “Will for Peace 2026” adalah manifestasi nyata dari pergeseran kekuatan dunia. Jika sebelumnya latihan militer besar selalu didominasi oleh NATO atau AS dan sekutunya, kehadiran Rusia, China, dan Iran di Afrika Selatan menunjukkan bahwa poros tandingan telah terbentuk secara solid di sektor keamanan maritim.
Dunia kini menanti, apakah pamer kekuatan ini akan meredam agresi Barat atau justru memicu perlombaan senjata baru di perairan internasional yang kian tak menentu.
