Prabowo Instruksikan Airlangga Genjot Ekspor

Prabowo Instruksikan Airlangga Genjot Ekspor

GARIS NARASI – Presiden Prabowo Subianto memberikan instruksi tegas kepada Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, untuk segera merumuskan langkah-langkah strategis guna mendongkrak volume ekspor nasional. Pesan tersebut disampaikan di tengah upaya pemerintah memperkuat struktur ekonomi domestik dari guncangan geopolitik global dan dinamika perang dagang yang kian memanas di awal tahun 2026.

Airlangga Hartarto mengungkapkan arahan tersebut saat memberikan sambutan dalam acara Road to Jakarta Food Security Summit (JFSS) dan sebelumnya pada pertemuan di Hambalang. Menurut Airlangga, Presiden menaruh perhatian besar pada sektor-sektor padat karya dan teknologi tinggi sebagai ujung tombak devisa negara.

Revitalisasi Industri Tekstil: Target Ekspor USD 40 Miliar

Salah satu poin krusial dalam pesan Presiden Prabowo adalah penyelamatan dan penguatan industri tekstil dan produk tekstil (TPT). Presiden meminta agar industri ini tidak hanya sekadar bertahan (survive), tetapi harus mampu melakukan ekspansi besar-besaran di pasar internasional.

“Bapak Presiden menitipkan pesan khusus agar ekspor kita harus meningkat. Terutama di sektor tekstil, kita memiliki potensi besar untuk menjadi lima pemain besar dunia,” ujar Airlangga kepada media di Jakarta (13/1/2026).

Pemerintah menetapkan target ambisius untuk meningkatkan nilai ekspor tekstil dari yang saat ini berada di kisaran US$ 13 miliar menjadi US$ 40 miliar dalam satu dekade ke depan. Langkah ini diharapkan tidak hanya menyumbang devisa, tetapi juga menyerap tambahan tenaga kerja hingga 2 juta orang, sehingga total pekerja di sektor ini mencapai 6 juta orang.

Strategi Diversifikasi Pasar dan Hilirisasi

Untuk mencapai target kenaikan ekspor tersebut, Presiden Prabowo menginstruksikan Airlangga untuk mempercepat penyelesaian berbagai perjanjian dagang internasional. Fokus utama saat ini adalah:

  1. Akses CPTPP: Membuka pasar baru yang selama ini sulit ditembus, seperti Meksiko, Kanada, dan Peru.
  2. Kemitraan dengan Inggris dan AS: Pemerintah tengah merampungkan kesepakatan tarif dagang dengan Amerika Serikat yang diharapkan akan ditandatangani pada akhir Januari 2026. Hal ini krusial untuk mengamankan posisi produk manufaktur Indonesia di pasar Barat.
  3. Hilirisasi Semikonduktor: Selain tekstil, sektor elektronik dan chip semikonduktor menjadi prioritas. Airlangga mengungkapkan bahwa Indonesia sedang menjalin komunikasi dengan perusahaan semikonduktor global asal Inggris untuk menjadikan RI sebagai mitra strategis dalam rantai pasok global.

Stabilitas Domestik sebagai Modal Ekspor

Dalam arahannya, Prabowo menekankan bahwa ekspor yang kuat harus didorong oleh fundamental ekonomi domestik yang stabil. Hal ini mencakup ketersediaan energi yang kompetitif dan ketahanan pangan.

Presiden baru saja meresmikan proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan yang memungkinkan Indonesia mencapai swasembada solar pada tahun 2026. Pengurangan ketergantungan pada impor energi ini akan memberikan ruang fiskal yang lebih luas bagi pemerintah untuk memberikan insentif ekspor kepada para pelaku usaha.

“Jika energi kita kompetitif dibandingkan China dan Vietnam, maka daya saing produk ekspor kita otomatis meningkat. Ini adalah arahan Presiden yang sedang kita eksekusi melalui koordinasi lintas kementerian,” tambah Airlangga.

Dukungan Fiskal dan Pembiayaan

Sebagai tindak lanjut, pemerintah telah menyiapkan stimulus fiskal sebesar Rp 110,7 triliun untuk tahun 2026 yang difokuskan pada sektor-sektor andalan ekspor. Selain itu, plafon Kredit Usaha Rakyat (KUR) tetap dijaga di angka Rp 300 triliun guna memastikan UMKM yang berorientasi ekspor mendapatkan akses pemodalan yang mudah dan murah.

Presiden Prabowo optimis bahwa dengan sinergi antara kebijakan hilirisasi dan ekspansi pasar luar negeri, Indonesia mampu keluar dari jebakan pendapatan menengah (middle income trap) melalui pertumbuhan ekonomi yang didorong oleh sektor riil dan ekspor yang tangguh.