GARIS NARASI – Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Republik Indonesia, khususnya Komisi XI DPR RI, menyampaikan harapan kuat agar Bank Indonesia (BI) menjaga stabilitas nilai tukar rupiah pada level yang moderat sebagai cerminan fundamental ekonomi nasional yang kuat. Hal ini disampaikan dalam suasana dinamika pasar keuangan global yang mempengaruhi pergerakan kurs rupiah terhadap dolar AS dan mata uang lainnya.
Harapan tersebut datang dari Ketua Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun, saat memberikan keterangan singkat kepada media usai kegiatan di Gedung AA Maramis, Jakarta. Menurut Misbakhun, menjaga nilai tukar jelas merupakan tugas kompleks dan bukan hal yang sederhana, namun pihaknya yakin Indonesia memiliki fundamental ekonomi yang kuat untuk menopang stabilitas tersebut.
Pernyataan DPR dan Fokus pada Stabilitas Rupiah
Misbakhun menekankan bahwa upaya menjaga nilai tukar rupiah pada kisaran yang moderat bukan sekadar tugas BI, tetapi juga bagian dari gambaran kekuatan ekonomi Indonesia di tengah ketidakpastian global. Dia mencatat beberapa indikator yang menurutnya menjadi penopang kondisi ekonomi tersebut:
- Pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap stabil, berada di kisaran sekitar 4,8–5 persen secara year-on-year (yoy).
- Inflasi domestik tetap terjaga pada level rendah, mencerminkan kendali yang baik atas harga-harga konsumen.
- Posisi cadangan devisa tetap kuat, didukung oleh surplus transaksi berjalan dan surplus neraca perdagangan.
- Arus neraca pembayaran global menunjukkan kinerja yang sehat, mencerminkan ketahanan eksternal ekonomi Indonesia.
Menurut Misbakhun, sentimen pasar yang bergejolak termasuk tekanan pada nilai tukar akibat kondisi eksternal dapat diatasi lewat sinergi kebijakan fiskal dan moneter, serta kebijakan lain untuk memperkuat kepercayaan investor.
Konteks Gejolak Kurs Rupiah dan Kebijakan BI
Permintaan DPR agar BI menjaga rupiah di level moderat terjadi di tengah periode di mana rupiah relatif melemah terhadap dolar AS. Pada 20 Januari 2026, nilai tukar rupiah tercatat sekitar Rp16.945 per dolar AS dan mengalami pelemahan sekitar 1,53% dibanding akhir Desember 2025. Pelemahan ini dipengaruhi oleh arus modal keluar investor asing dan ketidakpastian pasar global.
Bank Indonesia sendiri melalui Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada tanggal 20–21 Januari 2026 memutuskan tetap mempertahankan suku bunga BI-Rate pada level 4,75 persen, konsisten dengan visi stabilisasi nilai tukar rupiah serta mendukung target inflasi dan pertumbuhan ekonomi.
Keputusan ini menunjukkan bahwa BI masih memprioritaskan stabilitas nilai tukar dan ekonomi nasional di tengah tekanan global, meskipun tekanan eksternal terus berlanjut. Pada tahun 2025, BI telah melakukan sejumlah penyesuaian moneter, termasuk penurunan suku bunga acuan secara bertahap untuk mendukung pertumbuhan.
Risiko Global dan Tekanan Terhadap Rupiah
Dalam beberapa pekan terakhir, rupiah menjadi sorotan pasar karena sentimen negatif yang muncul akibat kekhawatiran terhadap independensi bank sentral Indonesia. Rupiah jatuh ke titik terendah intraday sejak awal tahun 2026 saat investor mencermati dinamika politik dan kemungkinan tekanan terhadap kebijakan moneter.
Isu tersebut mencuat setelah Presiden Indonesia mengajukan calon Deputi Gubernur BI yang memicu spekulasi tentang kemungkinan campur tangan politik dalam kebijakan moneter, meskipun pejabat pemerintah membantah adanya tekanan untuk mengorbankan independensi bank sentral.
Sementara itu, survei Reuters menunjukkan bahwa nilai tukar rupiah mengalami tekanan berkelanjutan, menjadikannya salah satu mata uang terlemah di Asia sepanjang 2025. Tekanan ini diperparah oleh aliran modal keluar dari pasar obligasi Indonesia dan kekhawatiran atas defisit anggaran yang lebih lebar.
Harapan DPR: Sinergi Kebijakan untuk Stabilitas yang Berkelanjutan
Menghadapi kondisi tersebut, DPR melalui Komisi XI berharap bahwa BI tidak hanya menjaga stabilitas nilai tukar, tetapi juga bekerja sinergis dengan pemerintah dalam merumuskan kebijakan yang menyeimbangkan antara stabilitas moneter dan pertumbuhan ekonomi. Dalam pernyataannya, DPR menyinggung bahwa sentimen negatif yang mempengaruhi kurs rupiah perlu direspons secara cepat dan tepat agar kepercayaan pelaku pasar tetap terjaga.
Selain itu, anggota Komisi XI lainnya juga menyoroti perlunya respons yang tegas, terukur, dan proaktif oleh BI dalam menghadapi tekanan pasar termasuk melakukan intervensi pasar valuta asing bila diperlukan. Intervensi semacam ini dianggap wajar dalam rangka mempertahankan stabilitas nilai tukar saat terjadi volatilitas tinggi di pasar global.
Peran Sentimen Pasar dan Fundamental Ekonomi
Para pengamat ekonomi sering menekankan bahwa sentimen pasar dapat menjadi faktor terpenting dalam pergerakan kurs mata uang. Kendati Indonesia memiliki fundamental ekonomi yang kuat seperti pertumbuhan GDP yang solid, neraca perdagangan surplus, dan cadangan devisa besar sentimen global dan arus modal tetap punya dampak signifikan terhadap rupiah.
Oleh karena itu, DPR berharap bahwa BI akan mampu mengambil langkah-langkah yang efektif untuk memberikan sinyal positif kepada investor, baik domestik maupun internasional, sehingga membantu menahan tekanan terhadap rupiah dan meminimalisir gejolak pasar keuangan.
