GARIS NARASI – Banjir hujan deras yang melanda Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, pada Minggu (16/11/2025) memicu tanah longsor hebat di Dusun Situkung, Desa Pandanarum, Kecamatan Pandanarum. Akibatnya, puluhan warga dinyatakan hilang, ratusan harus mengungsi, dan puluhan rumah ditimbun material longsoran.
Menurut keterangan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), hingga Senin (17/11) tercatat 27 warga masih hilang dan diduga tertimbun. Kepala Bidang Kedaruratan BPBD Banjarnegara, Raib Saekhudin, menyatakan bahwa pencarian terus dilakukan meski terkendala oleh kondisi tanah yang masih bergerak.
Skala Kerusakan dan Pengungsi
Dampak longsor ini sangat luas: sebanyak 30 rumah rusak berat atau tertimbun, menurut data BPBD setempat. Beberapa laporan bahkan menyebut 48 rumah mengalami kerusakan berat, sementara puluhan rumah lain berada dalam status “terancam tertimbun.” Korban jiwa sejauh ini dilaporkan 2 orang meninggal, dengan satu ditemukan di lokasi kejadian dan satu lagi wafat setelah dirawat di rumah sakit. Ada juga laporan luka-luka, dan beberapa warga dirujuk ke Puskesmas Pandanarum maupun RSUD Banjarnegara.
Sementara itu, jumlah pengungsi terus bertambah. Hingga Selasa (18/11), sebanyak 937 jiwa tercatat mengungsi ke sejumlah titik aman. Lokasi pengungsian tersebar di Kantor Kecamatan Pandanarum, GOR Desa Beji, gedung Haji Desa Pringamba, Wisma Muhammadiyah Beji, hingga rumah saudara warga terdampak.
Hambatan dalam Operasi SAR
Pencarian korban lumpuh sebagian karena kondisi medan yang sulit. Tim SAR gabungan dari BNPB, BPBD, TNI, Polri, dan relawan bekerja tanpa henti. Namun, pencarian dibatasi karena tanah di lokasi longsor masih terus bergerak, meningkatkan risiko bagi petugas. Alat berat pun dikerahkan untuk menggali material longsoran bahkan, salah satu petugas menemukan sepeda motor milik warga yang rumahnya tertutup longsor, mengindikasikan korban mungkin berada di dalam rumah saat bencana terjadi.
Menurut BNPB, sejak laporan awal, tim berhasil mengevakuasi 34 orang dari kawasan hutan di sekitar longsoran. Namun, karena potensi longsor susulan masih besar, proses evakuasi harus berjalan hati-hati.
Kerugian Materiil Sangat Besar
Kerusakan tidak hanya menyasar hunian warga, tetapi juga lahan pertanian dan peternakan. Berdasarkan pendataan, tanah persawahan dan perkebunan milik warga rusak parah, termasuk tanaman padi, cabai, tomat, dan kapulaga. Nilai kerugian di sektor pertanian ditaksir mencapai hampir Rp 2,999 miliar, sementara kerusakan ternak (sapi dan kambing) diperkirakan tambah sekitar Rp 640 juta.
Secara keseluruhan, total rumah terdampak diperkirakan mencapai 225 unit, dengan nilai kerugian materiil diperkirakan mencapai Rp 3,6 miliar.Selain itu, fasilitas irigasi pertanian juga rusak, dengan kerugian tambahan senilai jutaan rupiah.
Tindak Lanjut dan Respons Pemerintah
Menghadapi bencana ini, pemerintah daerah dan BNPB bergerak cepat. Pos komando darurat telah didirikan di Pandanarum untuk mengkoordinasi upaya pemulihan dan logistik. BPBD Banjarnegara juga membuka dapur umum di kantor kecamatan, serta menyalurkan bahan kebutuhan dasar seperti makanan siap saji, air mineral, matras, selimut, hygiene kit, dan family kit untuk para pengungsi.
Kepala BNPB, Letjen TNI Suharyanto, dijadwalkan tiba di lokasi untuk memantau langsung proses evakuasi dan pemulihan korban. Pemerintah provinsi Jawa Tengah juga menyatakan komitmen untuk membantu pemulihan menyeluruh, tidak hanya pemulihan fisik hunian, tetapi juga pemulihan mata pencaharian warga yang kehilangan lahan atau ternaknya. Gubernur Ahmad Luthfi menyebut bahwa bantuan akan mencakup korban ternak, pemulihan lahan pertanian, dan relokasi jika diperlukan.
Imbauan Kewaspadaan dan Mitigasi
Para pejabat menyampaikan peringatan kepada warga agar tetap waspada. Kondisi tanah yang labil, terutama di musim hujan saat ini, sangat rentan terhadap pergerakan. Longsoran diperkirakan berasal dari tebing di Gunung Jaran, yang ambrol dan menuruni area permukiman serta lahan pertanian.
BPBD juga akan melakukan asesmen risiko jangka panjang, termasuk kemungkinan melakukan relokasi penduduk dari titik yang sangat rawan dan perkuatan infrastruktur lereng untuk mencegah bencana susulan.
Refleksi dan Tantangan ke Depan
Tragedi longsor di Banjarnegara ini menegaskan betapa rentannya sebagian komunitas pedesaan terhadap bencana alam, terutama di tengah musim penghujan yang melanda Jawa Tengah. Sebagai daerah dengan banyak perbukitan dan tebing, Banjarnegara berisiko tinggi mengalami pergerakan tanah jika intensitas hujan meningkat.
Dalam jangka panjang, upaya mitigasi seperti penanaman vegetasi penahan tanah, pembuatan terasering, serta sistem peringatan dini harus menjadi prioritas. Tak kalah penting, edukasi kepada warga agar memahami bahaya dan mengenali tanda-tanda awal longsor seperti retakan tanah, suara gemeretak, atau perubahan aliran air.
Sementara itu, operasi SAR dan pemulihan masih terus berjalan. Waktu sangat krusial dalam mencari korban yang hilang, dan tantangan utama adalah stabilitas lahan yang terus menjadi kendala. Semua mata kini tertuju pada upaya penyelamatan dan kepada harapan, bahwa warga yang hilang segera ditemukan, rumah dapat dipulihkan, dan komunitas kembali bangkit dari tragedi ini.
