GARIS NARASI – Tujuh hari pascabencana tanah longsor dahsyat yang melanda Dusun Situkung, Desa Pandanarum, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah upaya pencarian korban hilang masih terus berlanjut. Tim SAR gabungan yang terdiri dari unsur TNI, Polri, Basarnas, sukarelawan, dan Pemerintah Daerah, memutuskan untuk memperpanjang masa operasi selama tiga hari ke depan, mengingat masih ada 16 warga yang belum ditemukan. Keputusan ini diambil setelah operasi pencarian yang telah berjalan selama satu minggu, sesuai Standar Operasi Prosedur (SOP), memasuki masa evaluasi pada Sabtu (22/11).
Bencana alam yang terjadi di Banjarnegara ini telah menelan banyak korban jiwa dan menyebabkan kerugian material yang signifikan. Hingga hari ketujuh operasi SAR, total korban yang berhasil ditemukan dan teridentifikasi berjumlah 12 orang meninggal dunia, termasuk dua temuan berupa bagian tubuh. Angka tersebut masih jauh dari jumlah total 28 orang yang dilaporkan hilang dan tertimbun material longsor.
Perpanjangan Operasi SAR: Harapan di Tengah Tantangan Berat
Kepala Kantor SAR Semarang, Budiono, menyatakan bahwa perpanjangan waktu operasi ini merupakan komitmen bersama seluruh tim gabungan untuk menemukan seluruh korban. Rapat evaluasi di Pendopo Kecamatan Pandanarum menyimpulkan bahwa potensi untuk menemukan korban lainnya masih sangat besar, meskipun operasi menghadapi tantangan yang sangat berat.
“Hari ketujuh ini merupakan hari evaluasi SAR. Evaluasi memutuskan untuk menambah waktu tiga hari lagi untuk upaya evakuasi korban,” ujar Budiono. “Kami terus berupaya agar seluruh korban dapat ditemukan dan dievakuasi.”
Perpanjangan ini disambut baik oleh keluarga korban yang hingga kini masih menunggu kabar dari sanak saudara mereka. Meskipun diliputi duka, perpanjangan masa pencarian ini memberikan secercah harapan di tengah tumpukan lumpur dan reruntuhan.
Kendala di Lapangan: Medan Berat dan Cuaca Ekstrem
Medan pencarian di Dusun Situkung dikenal sangat sulit. Area longsoran yang luas, ditambah dengan ketebalan material tanah dan bebatuan yang menimbun pemukiman, menjadi hambatan utama. Berdasarkan laporan, beberapa titik timbunan mencapai kedalaman lebih dari tiga meter.
Selain itu, faktor cuaca juga menjadi kendala serius. Hujan deras yang kerap mengguyur wilayah Banjarnegara meningkatkan risiko terjadinya longsor susulan. Kepala BPBD Jawa Tengah, Bergas Catursasi Penanggungan, menjelaskan bahwa tim harus menghentikan operasi setiap kali hujan turun demi keselamatan personel. Pergerakan tanah juga terpantau di sejumlah titik, menunjukkan kondisi tanah yang masih labil.
Untuk mengatasi hambatan ini, Tim SAR gabungan telah mengerahkan segala sumber daya. Saat ini, sebanyak 23 alat berat, seperti ekskavator, diturunkan ke lokasi. Selain itu, anjing pelacak unit K-9 dan 12 unit alkon (alat penyedot air) juga dikerahkan untuk mempercepat proses penyisiran dan pengeringan kubangan air di area longsoran. Strategi pencarian difokuskan pada titik-titik yang dicurigai berdasarkan laporan anjing pelacak, keterangan keluarga korban, dan analisis mendalam dari tim ahli.
Upaya mitigasi bencana juga dilakukan melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Tim gabungan berupaya membuat jalur pembuangan air agar aliran air hujan dapat langsung dialirkan ke sungai, sehingga mengurangi risiko kubangan air yang dapat memicu longsor susulan.
Penanganan Dampak dan Relokasi Warga
Sementara operasi pencarian terus diintensifkan, penanganan dampak pascabencana juga menjadi prioritas. Ratusan warga yang rumahnya terdampak atau berada di zona merah telah dievakuasi dan ditempatkan di pengungsian sementara.
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sedang mempersiapkan langkah relokasi bagi sekitar 424 warga korban longsor. Hunian sementara (huntara) sedang dalam proses pembangunan, dengan material yang disiapkan oleh BNPB. Relokasi ini merupakan langkah cepat untuk memastikan keselamatan warga dari ancaman longsor di masa depan.
Di tempat pengungsian, layanan kesehatan bagi warga terdampak, termasuk kelompok rentan, terus berjalan. Tim trauma healing juga dikerahkan untuk memberikan pendampingan psikososial, terutama bagi anak-anak yang mengalami guncangan psikologis akibat peristiwa ini.
Dengan perpanjangan waktu operasi hingga tiga hari ke depan, seluruh pihak berharap cuaca akan bersahabat dan 16 korban yang masih tertimbun dapat segera ditemukan, membawa penutupan bagi keluarga yang berduka. Misi kemanusiaan ini adalah ujian atas ketahanan dan solidaritas bangsa di tengah bencana alam yang melanda.
