Garis Narasi – Langkah ekspansi dan peningkatan kapasitas produksi yang dilakukan PT Citra Terus Makmur (CTM) mendapat apresiasi dari berbagai asosiasi industri tekstil. Perluasan investasi yang dilakukan CTM dinilai menjadi bukti industri tekstil nasional masih memiliki prospek cerah. Petinggi Asosiasi Pertekstilan Indonesia Frans Leonardi mengatakan, ekspansi CTM menunjukkan kepercayaan pelaku industri terhadap potensi besar pasar tekstil dalam negeri.
Namun, ia menegaskan dukungan pemerintah dalam menjaga ekosistem industri tetap menjadi kunci keberlanjutan pertumbuhan sektor ini. “Regulasinya sudah menunjang akan tetapi kami mengharapkan pemerintah terus memberi perhatian pada ekosistem secara keseluruhan, terutama di bahan baku. Kalau bahan bakunya dicegah, industri bisa berhenti,” ujar Frans dikutip Rabu, 12 November 2025. Ia menilai kebijakan impor bahan baku seharusnya tidak dipersulit karena pasokan dalam negeri masih belum mencukupi.
Integrasi Hulu-Hilir Jadi Kunci Daya Saing Industri Tekstil Nasional
Menurutnya, bahan baku seharusnya tidak dikenakan bea masuk, sebaliknya yang seharusnya dikenakan justru di level produk jadi. “Siapa pun yang mau berinvestasi pasti kami dukung. Langkah seperti CTM ini menunjukkan industri tekstil masih punya prospek besar asal pemerintah menjaga ekosistemnya,” tegas dia. Sementara itu, President Director Asia Pacific Fibers Juga menyambut positif ekspansi yang dilakukan CTM. Menurutnya, integrasi industri dari hulu hingga hilir seperti yang dijalankan CTM adalah model ideal bagi industri tekstil nasional untuk tetap kompetitif.
Integrasi dari hulu sampai hilir ini model terbaik untuk Indonesia agar tetap bisa bersaing. Mantan Ketua Umum Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filament Indonesia (APSyFI) ini menilai, langkah CTM menjadi contoh nyata bagaimana industri tekstil dalam negeri mampu beradaptasi dan terus tumbuh di tengah tantangan global.
Bikin industri tekstil tetap kompetitif
Ia menekankan pentingnya modernisasi sektor hulu agar rantai pasok semakin kuat dan efisien. “Potensi pasar dalam negeri sangat besar. Sekarang tinggal modernisasi di hulu agar seluruh rantai industri bisa efisien dan berdaya saing tinggi,” jelas dia. Kami juga mengingatkan perlunya kebijakan pemerintah yang berpihak pada penguatan industri nasional.
Ia mengungkapkan, pabrik CTM menjadi contoh kemajuan nyata industri tekstil Indonesia yang terus bertransformasi menuju efisiensi dan daya saing. “Kalau pabrik belum modern, biaya produksinya pasti lebih tinggi. Karena itu, modernisasi harus jadi prioritas. Pabrik seperti ini luar biasa. Ini contoh ekspansi yang kita harapkan untuk memperkuat industri nasional,”.
