Bisnis Susu Kambing Mahasiswa UMM Tembus KMI Expo

Bisnis Susu Kambing Mahasiswa UMM Tembus KMI Expo

Garis Narasi – Bayangkan jika susu kambing yang kerap dihindari karena baunya justru disulap menjadi produk bernilai tinggi, bahkan sukses menarik perhatian pasar internasional. Inilah kisah inspiratif dari Luqman Hakim Arifin, mahasiswa Agribisnis angkatan 2023 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).

Bersama timnya, Luqman berhasil mengubah peternakan tradisional menjadi bisnis terintegrasi berkelas nasional mereka tidak hanya beternak, tetapi juga merangkai ekosistem wirausaha yang menghasilkan produk bernilai tambah sekaligus berdampak sosial.

Keberhasilan tersebut teruji sejak mendapat pendanaan P2MW pada tahun 2024 dan berlanjut di P2MW 2025. Luqman dan timnya yang beranggotakan lima orang kini terpilih sebagai delegasi UMM dan siap berkompetisi di ajang bergengsi Kewirausahaan Mahasiswa Indonesia (KMI) Expo XVI 2025 yang akan diselenggarakan di Universitas Tidar, Magelang, pada 19–21 November 2025.

Unit usaha yang mereka kembangkan bernama Embik Eco Green Farm, an Integrated Disability Friendly Business with Impactful Product Innovation. Bisnis ini berawal dari latar belakang keluarga Luqman sebagai peternak kambing pedaging. Namun, Luqman jeli melihat celah pasar. “Latar belakangnya itu dari peternak kambing biasa, yang fokusnya di pedaging saja, jualnya per ekor. Hal ini pula yang mengarahkan fokus kami pada kambing perah jenis Savera dan Etawa,” ujar Luqman.

Dari Tugas Kuliah Menjadi Peluang Bisnis

Rafiq, selaku ketua tim, menjelaskan bahwa ide Embik Farm muncul dari tugas mata kuliah kewirausahaan. Berawal dari penelitian kecil-kecilan tentang kualitas susu kambing dan tantangan pemasarannya, mereka menemukan peluang besar. “Kami melihat bahwa susu kambing sebenarnya memiliki kandungan nutrisi tinggi dan sangat bermanfaat bagi kesehatan, khususnya bagi penderita intoleransi laktosa. Tapi citra di masyarakat membuat permintaan rendah. Jadi kami berpikir untuk memodifikasi prosesnya agar lebih diterima konsumen,” ujarnya.

Dengan memanfaatkan laboratorium kampus dan bimbingan dosen, mereka melakukan serangkaian uji coba untuk mengurangi bau menyengat dari susu kambing. Hasilnya, mereka menemukan metode cold pasteurization dengan suhu rendah dan teknik filtrasi yang mampu menghasilkan aroma lebih ringan. Tidak berhenti di situ, mereka menambah varian rasa seperti cokelat, vanilla, dan madu untuk menambah daya tarik anak-anak dan remaja.

Produksi Mandiri dengan Prinsip Zero Waste

Embik Farm menjalankan proses produksi secara mandiri di kandang kecil milik orang tua salah satu anggota tim. Mereka memulai dengan hanya lima ekor kambing perah. Meskipun skala masih kecil, mereka mengimplementasikan prinsip zero waste sehingga limbah peternakan dapat dimanfaatkan secara optimal.

Kotoran kambing diolah menjadi pupuk organik yang dijual kembali kepada petani lokal. Sementara itu, sisa hasil perahan yang tidak layak konsumsi digunakan sebagai bahan pakan fermentasi. “Kami ingin membangun bisnis yang tidak hanya berorientasi keuntungan, tapi juga berdampak bagi lingkungan dan masyarakat sekitar,” kata Laily.

Pendekatan berkelanjutan inilah yang menarik minat juri KMI Expo, karena menunjukkan bahwa bisnis mahasiswa bukan hanya soal jualan produk, tetapi juga memikirkan sistem usaha dari hulu ke hilir.

Rencana Ekspansi dan Masa Depan Embik Farm

Setelah pencapaian di KMI Expo, tim Embik Farm menargetkan peningkatan kapasitas produksi dengan menambah jumlah kambing perah dan memperluas fasilitas pengolahan. Mereka juga berniat mengurus izin edar dan sertifikasi halal sehingga produk dapat masuk ke pasar modern dan toko ritel besar.

“Kami ingin Embik Farm menjadi produk susu kambing modern yang mudah dijangkau masyarakat luas, aman dikonsumsi, dan memiliki cita rasa yang disukai semua kalangan,” ujar Rafiq.

Dengan kombinasi inovasi teknologi, pemasaran kreatif, serta komitmen terhadap keberlanjutan, Embik Farm menjadi contoh inspiratif bahwa ide sederhana pun dapat tumbuh menjadi bisnis potensial. Keberhasilan mereka menembus KMI Expo 2025 membuktikan bahwa mahasiswa Indonesia memiliki kapasitas besar untuk berkontribusi pada sektor agribisnis nasional.