Perang Thailand-Kamboja Hari Ke-4, Korban Terus Bertambah

Perang Thailand-Kamboja Hari Ke-4, Korban Terus Bertambah

GARIS NARASI – Konflik bersenjata antara Thailand dan Kamboja di sepanjang perbatasan yang disengketakan telah memasuki hari keempat yang brutal, dengan laporan terbaru menunjukkan peningkatan signifikan pada jumlah korban jiwa, baik dari pihak militer maupun warga sipil. Bentrokan yang kembali memanas sejak awal pekan ini telah merenggut nyawa sedikitnya 15 orang terdiri dari tentara Thailand dan warga sipil Kamboja dan memaksa lebih dari setengah juta penduduk mengungsi dari rumah mereka.

Sejak pecahnya eskalasi terbaru pada Senin (8/12), yang ditandai dengan serangan udara oleh Angkatan Udara Kerajaan Thailand (RTAF) menggunakan jet tempur F-16 dan Gripen, zona pertempuran telah meluas dan intensitasnya terus meningkat. Pihak berwenang di kedua negara saling tuduh mengenai pihak yang melanggar perjanjian damai yang sebelumnya dimediasi oleh komunitas internasional, termasuk Amerika Serikat.

Korban Jiwa dan Gelombang Pengungsian Massal

Data terkini yang dirilis pada Kamis (11/12) menunjukkan angka korban yang mengkhawatirkan. Kementerian Pertahanan Thailand melaporkan bahwa mereka kehilangan enam tentara dalam pertempuran sengit tersebut. Sementara di sisi Kamboja, laporan awal mencatat adanya sembilan korban sipil tewas dan lebih dari 40 orang terluka akibat gempuran artileri dan serangan udara Thailand yang menyasar wilayah yang diperebutkan.

Dampak paling parah terasa pada populasi sipil di wilayah perbatasan. Gelombang pengungsian masif telah terjadi, di mana ratusan ribu keluarga meninggalkan rumah mereka yang kini menjadi medan tempur.

  • Thailand: Juru bicara Kementerian Pertahanan Thailand, Surasant Kongsiri, menyatakan bahwa lebih dari 400.000 warga telah dievakuasi ke tempat penampungan yang aman, dengan lebih dari 700 sekolah di provinsi-provinsi perbatasan terpaksa ditutup dan sebagian dialihfungsikan menjadi pusat evakuasi.
  • Kamboja: Pihak Kamboja juga melaporkan pengungsian lebih dari 127.000 orang dari sisi perbatasan mereka. Warga sipil berbondong-bondong mengungsi ke pagoda, sekolah, dan tempat-tempat yang dianggap lebih aman, membawa serta barang-barang seadanya.

Banyak warga yang mengungsi mengaku khawatir akan keselamatan mereka setelah dentuman artileri terdengar mendekati permukiman dan bahkan di sekitar kompleks kuil bersejarah di Samraong, wilayah barat laut Kamboja.

Eskalasi Militer dan Saling Tuduh

Pertempuran kini tidak hanya melibatkan baku tembak infantri, tetapi juga penggunaan senjata berat dan aset militer canggih.

Tuduhan terhadap Kamboja: Militer Thailand menuduh Kamboja menggunakan senjata berat, termasuk roket BM-21, mortir, artileri, dan bahkan drone pembawa bom untuk menyerang posisi militer dan wilayah sipil Thailand. Laporan menyebutkan beberapa roket Kamboja mendarat di sekitar Rumah Sakit Phanom Dong Rak di Provinsi Surin.

Tuduhan terhadap Thailand: Kementerian Pertahanan Nasional Kamboja membalas dengan menuduh militer Thailand melakukan serangan di dalam negeri Kamboja pada dini hari, termasuk mengerahkan tank dan artileri untuk menyerang target di provinsi-provinsi Pursat, Banteay Meanchey, dan Oddar Meanchey. Kamboja berargumen bahwa serangan Thailand terjadi setelah serangkaian tindakan provokatif selama beberapa hari.

Reaksi Internasional dan Kekhawatiran ASEAN

Konflik ini telah memicu keprihatinan mendalam dari komunitas internasional dan negara-negara tetangga.

  • PBB dan ASEAN: Sekretaris Jenderal PBB, Uni Eropa, dan para pemimpin ASEAN, termasuk Perdana Menteri Malaysia, mendesak kedua belah pihak untuk segera menahan diri dan kembali ke meja perundingan. Mereka menekankan bahwa pertempuran ini berisiko mengganggu stabilitas regional yang lebih luas. Mantan Presiden Timor Leste, Xanana Gusmão, secara khusus mendesak agar mekanisme ASEAN dijadikan acuan untuk mengakhiri konflik.
  • AS: Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, juga telah menyatakan akan menelepon kedua belah pihak untuk mendesak gencatan senjata, mengklaim bahwa ia dapat “menghentikan perang dua negara yang sangat kuat” tersebut.
  • Dampak Ekonomi: Ketegangan yang memuncak sejak Mei 2025 telah berdampak pada hubungan ekonomi, dengan Kamboja memberlakukan larangan impor BBM, buah, sayur, dan memutus pasokan listrik serta layanan internet dari Thailand, meskipun ada upaya untuk menstabilkan hubungan.

Sengketa perbatasan yang berakar dari batas kolonial sepanjang 800 kilometer dan klaim tumpang tindih atas kuil-kuil kuno ini telah berkali-kali memicu bentrokan, namun eskalasi di bulan Desember 2025 ini dinilai sebagai yang terburuk dalam beberapa tahun terakhir, menandai kegagalan nyata dari perjanjian damai sebelumnya. Situasi kemanusiaan di wilayah perbatasan kian memburuk seiring dengan berlanjutnya pertumpahan darah dan perpindahan massal penduduk.