Purbaya Sewot! AI Bea Cukai Disamakan Kemenkes: “Tersinggung!”

Purbaya Sewot! AI Bea Cukai Disamakan Kemenkes Tersinggung!

GARIS NARASI – Pernyataan yang cukup menggejutkan sekaligus lugas datang dari Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa. Dalam sebuah acara peresmian fasilitas baru, Menkeu Purbaya mengaku terusik dan merasa “tersinggung” ketika alat dan sistem kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang baru saja diluncurkan oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) disamakan dengan teknologi serupa yang dimiliki oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes).

Kekesalan ini diungkapkan Purbaya saat menghadiri peresmian Alat Pemindai Peti Kemas berteknologi canggih dan peluncuran aplikasi kepabeanan bernama “Trade AI” di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, pada Jumat (12/12/2025). Teknologi ini merupakan bagian dari upaya reformasi Bea Cukai untuk meningkatkan pengawasan dan memberantas praktik kecurangan seperti underinvoicing dan penyelundupan.

Perbandingan yang Dinilai Tidak Setara

“Jangan dibandingkan dengan Kementerian Kesehatan dong, tersinggung gue,” ucap Purbaya dalam nada berseloroh namun tegas, yang disambut tawa hadirin.

Sikap Purbaya ini menggarisbawahi adanya pandangan bahwa kompleksitas dan tantangan dalam penerapan AI di sektor kepabeanan, khususnya untuk pengawasan lalu lintas barang impor dan ekspor, jauh berbeda dan mungkin lebih rumit dibandingkan dengan aplikasi AI yang digunakan di sektor kesehatan.

AI milik Bea Cukai, yang diimplementasikan melalui sistem seperti Trade AI, dirancang untuk melakukan analisis yang sangat mendalam dan kritis. Tugas utamanya meliputi:

  • Menganalisis nilai pabean secara otomatis.
  • Mengklasifikasikan jenis barang (kode HS) dengan akurat.
  • Memvalidasi dokumen impor/ekspor.
  • Memverifikasi asal barang.
  • Memberikan rekomendasi profil risiko importir/eksportir.

Sistem ini bahkan mampu membandingkan harga barang yang diimpor dengan harga di pasar domestik, termasuk di platform e-commerce, untuk mendeteksi praktik curang seperti underinvoicing (pencatatan nilai barang lebih rendah dari seharusnya).

Dalam konteks pengawasan barang, sistem AI Bea Cukai harus berhadapan dengan data yang sangat beragam, volume transaksi yang masif, serta upaya sistematis dari oknum-oknum nakal untuk memanipulasi data dan dokumen. Risiko kerugian negara akibat kebocoran bea masuk dan pajak impor yang dihindari jauh lebih besar dan langsung berdampak pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Akurasi AI dan Potensi Penghematan Negara

Meskipun merasa tersinggung, Purbaya mengakui bahwa akurasi sistem AI Bea Cukai saat ini belum mencapai 100 persen. Ia menjelaskan bahwa AI merupakan teknologi yang terus belajar (machine learning), sehingga tingkat akurasinya akan terus meningkat seiring dengan bertambahnya data dan hasil perbandingan lapangan yang dimasukkan ke dalam sistem.

“AI ini kan sesuatu yang bisa belajar. Jadi, pertama kali digunakan, akurasinya memang tidak mungkin 100 persen. Karena dia terus belajar. Dari hasil yang ada, nanti dibandingkan lagi dengan kondisi di lapangan, dan data baru dimasukkan agar AI-nya bisa semakin pintar,” jelasnya.

Bea Cukai mengklaim akurasi sistem baru ini saat ini sudah mencapai sekitar 90 persen, meskipun Purbaya menduga angka riilnya masih sedikit di bawah klaim tersebut. Namun, hasil uji coba awal menunjukkan potensi yang sangat menjanjikan.

Purbaya mengungkapkan, uji coba alat dan sistem baru ini telah dilakukan terhadap 145 Pemberitahuan Impor Barang (PIB) dan berhasil mencegah potensi kebocoran senilai total Rp1,2 miliar. Angka ini, meski diakui Purbaya masih relatif kecil, membuktikan bahwa inisiatif AI ini profitable sejak awal diterapkan.

“Saya pikir sih masih terlalu kecil, tetapi nggak apa, paling nggak first run sudah menghasilkan income yang clear. Jadi kelihatannya proyek ini akan menguntungkan saya ke depan. Kalau semakin lama semakin canggih, harusnya semakin besar,” imbuh Purbaya penuh optimisme.

Investasi Rp45 Miliar untuk Pengembangan Lebih Lanjut

Untuk memastikan sistem AI ini semakin canggih dan dapat diterapkan secara optimal di seluruh Indonesia, Kementerian Keuangan memperkirakan perlunya investasi tambahan sekitar Rp45 miliar untuk pengembangan sistem teknologi informasi (IT) lebih lanjut.

Langkah Bea Cukai menerapkan teknologi AI ini tidak lepas dari peringatan keras yang sebelumnya disampaikan oleh Menkeu Purbaya. Ia bahkan sempat mengancam akan membekukan Ditjen Bea Cukai dan menggantinya dengan pihak swasta asing (Societe Generale de Surveillance/SGS) jika kinerja dan citra Bea Cukai tidak kunjung membaik dari isu-isu kecurangan dan layanan yang buruk.

Dengan peluncuran sistem AI dan alat pemindai canggih ini, Bea Cukai menunjukkan komitmen serius untuk bertransformasi. Purbaya berharap, penggunaan teknologi modern ini akan menutup celah penyelundupan dan praktik curang, sekaligus meningkatkan kepercayaan publik terhadap lembaga yang menjadi garda terdepan pengawasan lalu lintas barang negara.

“Dahulu urusan Bea Cukai bikin deg-degan [bagi importir/masyarakat], sekarang yang deg-degan justru oknum penyelundup,” pungkas Purbaya, menandaskan bahwa era pengawasan manual dan rentan manipulasi akan segera berakhir digantikan oleh kecanggihan kecerdasan buatan.