GARIS NARASI – Konflik bersenjata antara Thailand dan Kamboja yang telah berlangsung sepanjang Desember 2025 kembali mencapai puncaknya minggu ini. Laporan terbaru menunjukkan serangan udara dan darat Thailand ke fasilitas militer Kamboja, termasuk gudang roket dan depot bahan bakar strategis, sementara Bangkok juga memperketat blokade pasokan minyak dan logistik guna melemahkan kemampuan militer Kamboja. Situasi ini terus memperburuk krisis kemanusiaan dan mengancam stabilitas regional.
Serangan Udara dan Pemboman Gudang Roket
Menurut keterangan militer Thailand serta beberapa laporan dari media internasional, Angkatan Udara Thailand telah menjatuhkan bom presisi pada sebuah lapangan militer di dekat Poipet, Kamboja, yang diyakini sebagai gudang penyimpanan roket BM-21 serta amunisi berat lainnya yang digunakan oleh tentara Kamboja dalam konflik di perbatasan.
Pihak militer Thailand menyatakan operasi itu ditujukan secara khusus terhadap target militer dan dilakukan setelah BM-21 ditembakkan oleh pasukan Kamboja ke wilayah Thailand, menyebabkan korban di kalangan tentara dan warga sipil Thai. Pihak berwenang menegaskan bahwa serangan dirancang untuk meminimalisir korban sipil, meskipun ancaman terhadap non-kombatan tetap tinggi karena gelombang serangan roket sebelumnya.
Sementara itu, kementerian pertahanan Kamboja mengecam keras serangan udara tersebut dan menuduh Thailand melampaui garis perbatasan serta menyerang pusat kota Poipet yang ramai. Pernyataan ini menegaskan eskalasi pertempuran di sepanjang perbatasan yang diperebutkan, di mana kedua pihak saling melempar tuduhan provokasi dan agresi.
Blokade Minyak dan Pasokan Strategis
Selain serangan militer langsung, Thailand dilaporkan memperluas blokade terhadap pasokan minyak dan logistik ke Kamboja sebagai bagian dari strategi tekanan perang. Menurut sumber militer, Komando Tentara Thailand telah mengarahkan operasi untuk menangguhkan dan memotong rute pasokan minyak strategis melalui perairan Laut Thailand dan memasang status wilayah berbahaya dekat pelabuhan Kamboja.
Upaya ini bertujuan mengganggu kemampuan Kamboja untuk memobilisasi kendaraan tempur berat, drone, dan sistem pengisian bahan bakar roketnya, sementara Thailand berupaya mempertahankan dominasi di udara dan darat atas posisi penting di perbatasan. Blokade energi ini dipandang sebagai langkah signifikan terhadap sustainabilitas operasi militer Kamboja meskipun dapat berdampak besar terhadap ekonomi sipil dan distribusi energi di kawasan tersebut, terutama jika eskalasi terus berlanjut.
Korban, Pengungsian, dan Dampak Kemanusiaan
Bentrok bersenjata yang dimulai awal bulan ini telah menyebabkan ratusan ribu warga sipil terpaksa mengungsi dari desa dan kota perbatasan. Data terbaru menunjukkan lebih dari 500.000 orang di kedua sisi garis perbatasan telah melarikan diri ke tempat yang lebih aman, dengan ribuan lainnya mengalami luka dan kehilangan harta benda akibat serangan roket serta pengeboman.
Laporan dari otoritas lokal dan internasional juga menunjukkan tingginya angka korban sipil, termasuk mereka yang terluka akibat ledakan sekunder, kebakaran, serta kondisi buruk dalam perjalanan evakuasi. Infrastruktur penting seperti rumah sakit, sekolah, dan jalur pasokan pangan telah mengalami gangguan signifikan, menyebabkan krisis kemanusiaan yang membutuhkan respons darurat dari organisasi internasional.
Upaya Perdamaian Gagal dan Ketegangan Politik
Upaya mediator internasional, termasuk peran yang diklaim oleh mantan Presiden AS Donald Trump dan pemerintah negara lain, belum berhasil menghentikan gelombang kekerasan. Pernyataan tentang gencatan senjata sempat muncul, namun kemudian dibantah oleh pejabat tinggi Thailand serta dibantah oleh para pemimpin Kamboja, menunjukkan bahwa kesepakatan damai masih jauh dari tercapai.
Kedua negara saling melempar tuduhan tentang pelanggaran wilayah dan serangan terhadap target sipil. Sementara pemerintah Thailand menyatakan akan terus mempertahankan teritorialnya, Kamboja menegaskan haknya untuk membela kedaulatan bangsa dan martabat nasional.
Prospek Konflik dan Ancaman Regional
Analisis dari para pengamat militer dan politik menunjukkan bahwa konflik yang dimulai dari perselisihan wilayah terpencil dan sengketa peta kolonial kini telah berkembang menjadi perseteruan bersenjata penuh yang memengaruhi geopolitik ASEAN. Ancaman perluasan pertempuran, gangguan perdagangan lintas batas, serta tekanan terhadap ekonomi domestik membuat negara-negara tetangga khawatir akan potensi krisis yang lebih besar jika pertikaian ini tidak segera diredakan.
