Pertamina Kerahkan Transportasi Multi-Moda untuk Pasok BBM Wilayah Bencana

Pertamina Kerahkan Transportasi Multi-Moda untuk Pasok BBM Wilayah Bencana

GARIS NARASI – Dalam upaya memenuhi kebutuhan bahan bakar minyak (BBM) masyarakat dan mendukung penanganan pascagempa dan banjir yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera, khususnya Provinsi Aceh, PT Pertamina (Persero) mengerahkan strategi distribusi BBM yang inovatif dengan memanfaatkan transportasi multi-moda. Langkah cepat ini dilakukan untuk menjangkau kawasan yang terisolir akibat kerusakan parah infrastruktur transportasi setelah bencana melanda.

Bencana alam yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat dalam beberapa pekan terakhir telah menyebabkan putusnya akses transportasi darat di banyak titik. Jalan utama menghubungkan kota-kota besar dengan daerah terpencil seperti Takengon di Kabupaten Aceh Tengah rusak berat atau tertutup material longsor, sehingga distribusi BBM konvensional melalui truk tangki besar tidak bisa diandalkan.

Strategi Multi-Moda: Udara, Darat, dan Laut untuk Energi Tersalurkan

Untuk menjawab tantangan tersebut, Pertamina menerapkan sistem transportasi multi-moda yang memadukan penggunaan pesawat udara, kendaraan darat, hingga dukungan moda alternatif lainnya. Skema ini dimulai dengan pengangkutan BBM dari Integrated Terminal di Medan, yang kemudian diterbangkan menggunakan pesawat Air Tractor ke Bandara Rembele di Kabupaten Bener Meriah.

Setelah tiba di Rembele, BBM kemudian dipindahkan ke mobil tangki berukuran medium dengan kapasitas sekitar 8.000 liter untuk menjangkau daerah-daerah yang masih bisa dilalui melalui rute darat terbatas. Penggunaan truk tangki berukuran lebih kecil dimaksudkan agar kendaraan ini memiliki manuver yang lebih baik di jalan-jalan sempit atau rusak pascabencana, sehingga energi vital tetap bisa sampai ke masyarakat.

Keberhasilan penggunaan moda udara dan darat ini tampak dari masuknya 29.500 liter BBM ke Takengon sejak Jumat, 19 Desember 2025, meskipun akses jalur utama masih terganggu. Dari total itu, sekitar 13.500 liter BBM jenis Pertalite dan Biosolar dialokasikan langsung untuk konsumsi masyarakat di SPBU setempat, sedangkan sisanya sebanyak 16.000 liter digunakan untuk mendukung operasional posko penanganan bencana yang dikelola oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Kodim setempat.

Distribusi BBM tersebut sudah menjangkau empat SPBU, yakni dua SPBU di Kabupaten Bener Meriah dan dua di Takengon, yang menjadi titik layanan penting bagi warga yang membutuhkan bahan bakar untuk kendaraan, alat berat, generator listrik, hingga kebutuhan operasional tanggap darurat.

Koordinasi dengan Pemerintah dan Relaksasi Kebijakan

Upaya Pertamina tidak berjalan sendiri. Pemerintah Indonesia, lewat Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), juga mengeluarkan kebijakan pendukung agar pelayanan BBM berjalan lebih efektif di wilayah terdampak. Menteri ESDM meminta agar semua SPBU di kawasan bencana beroperasi 24 jam penuh, untuk mengantisipasi lonjakan kebutuhan selama masa tanggap darurat. Selain itu, pemerintah juga sempat mengeluarkan kebijakan relaksasi sementara terkait penggunaan barcode BBM bersubsidi agar distribusi tidak terhambat oleh persyaratan administratif yang biasanya berlaku.

Upaya koordinasi ini bertujuan bukan hanya untuk menjamin ketersediaan BBM, tetapi juga untuk memastikan bahwa layanan energi ini dapat mendukung berbagai kebutuhan penting masyarakat lain seperti mobilitas evakuasi, distribusi bantuan, penerangan, dan operasional fasilitas kesehatan darurat.

Prioritas pada Daerah Terisolir dan Dukungan Logistik Lanjutan

Selain jalur udara dan darat, Pertamina juga memanfaatkan moda laut untuk menjangkau wilayah-wilayah ekstrem yang benar-benar terputus, seperti pulau-pulau kecil atau daerah pesisir yang sulit dijangkau melalui jalur darat. Dengan keterlibatan kapal roll-on/roll-off (RoRo) dan kerja sama dengan TNI AL, perusahaan berhasil memindahkan kendaraan tangki melalui jalur laut ke titik-titik pengiriman yang lebih strategis.

Corporate Secretary Pertamina, Arya Dwi Paramita, menegaskan bahwa perusahaan terus memobilisasi semua sumber daya yang tersedia untuk menjamin distribusi energi tidak terputus demi menjaga kelangsungan kehidupan masyarakat, proses pemulihan pascabencana, serta layanan publik lain yang sangat bergantung pada energi.

Ia menyatakan, “Kami mobilisasi semua kemampuan yang ada, sebab di saat seperti ini energi bukan sekadar komoditas, tetapi kebutuhan dasar yang menopang berbagai layanan dasar masyarakat.”

Respons Kemanusiaan dan Dedikasi Petugas Lapangan

Upaya distribusi BBM ini juga dipandang sebagai bagian dari tanggung jawab kemanusiaan dan solidaritas nasional. Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, menggarisbawahi bahwa tim Pertamina di lapangan bekerja dengan dedikasi tinggi, berkolaborasi dengan relawan dan aparat setempat untuk menyalurkan BBM serta bantuan lain seperti LPG dan air bersih demi menjaga kesehatan dan kesejahteraan masyarakat terdampak.

Menurut Baron, energi yang sampai ke warga tidak hanya mendukung mobilitas, tetapi juga menjadi tulang punggung kegiatan tanggap darurat yang mencakup layanan kesehatan, logistik bantuan, hingga fungsi vital lain yang tidak dapat dipisahkan dari pasokan BBM.

Harapan dan Tantangan ke Depan

Meski tantangan distribusi pascagempa dan banjir sangat besar, langkah cepat Pertamina melalui transportasi multi-moda menunjukkan komitmen kuat dalam menjamin pasokan energi bagi masyarakat terdampak. Ke depannya, perusahaan bersama pemerintah daerah berencana terus memperbaiki rute distribusi, memulihkan jalur transportasi yang rusak, serta menerapkan skema alokasi BBM yang adaptif sesuai kebutuhan lapangan.

Kebutuhan akan BBM di kawasan terdampak bencana tetap tinggi seiring proses pemulihan yang tengah berlangsung. Dengan strategi yang terus dievaluasi dan disesuaikan, diharapkan tidak hanya kebutuhan energi dasar terpenuhi, tetapi juga aktivitas sosial ekonomi masyarakat dapat kembali berjalan normal secepat mungkin.