Waspada! Ekonomi Indonesia 2026 Diprediksi Jalan di Tempat

Waspada! Ekonomi Indonesia 2026 Diprediksi Jalan di Tempat

GARIS NARASI – Memasuki pengujung tahun 2025, optimisme terhadap percepatan pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun 2026 tampaknya mulai dibayangi oleh realitas tantangan struktural yang berat. Sejumlah ekonom memproyeksikan bahwa pertumbuhan ekonomi nasional pada 2026 masih akan tertahan atau “mandek” di kisaran angka 5%. Meski angka ini menunjukkan stabilitas, namun para ahli memperingatkan adanya gejala “stabilitas yang rapuh” jika pemerintah tidak segera membenahi mesin-mesin pertumbuhan baru.

Analisis INDEF: Terjebak dalam Inersia Struktural

Lembaga riset Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) dalam diskusi proyeksi ekonomi terbarunya pada Senin (29/12/2025), secara gamblang menyebut bahwa ekonomi Indonesia tahun 2026 akan sulit menembus angka di atas 5%.

Direktur Eksekutif INDEF, Esther Sri Astuti, menekankan bahwa ketergantungan yang terlalu besar pada konsumsi rumah tangga telah mencapai titik jenuh. Selama ini, konsumsi menyumbang lebih dari 50% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Namun, daya beli masyarakat, terutama kelas menengah, kini berada di bawah tekanan hebat akibat stagnasi upah riil dan pergeseran pasar tenaga kerja ke sektor informal.

“Stabilitas di angka 5% ini menyimpan kegelisahan. Jika kita hanya mengandalkan konsumsi tanpa ada penguatan di sektor industri dan investasi produktif, ekonomi kita akan terus jalan di tempat,” ujar Esther dalam laporan.

Faktor Penyebab Stagnasi: Dari Domestik hingga Global

Para ekonom menyoroti beberapa faktor kunci yang menyebabkan ekonomi 2026 sulit berakselerasi:

  1. Melemahnya Daya Beli dan Tabungan: Laporan Bank Dunia menunjukkan tren penurunan upah riil sejak tahun 2018. Hal ini diperburuk dengan fenomena “makan tabungan” (dissaving) di kalangan masyarakat kelas menengah bawah untuk memenuhi kebutuhan pokok, yang secara otomatis membatasi ruang pertumbuhan konsumsi.
  2. Sektor Manufaktur yang Melandai: Indonesia berisiko terjebak menjadi sekadar basis perakitan (assembly base) dalam rantai pasok global, bukan pencipta nilai tambah (value creator). Minimnya diversifikasi industri membuat ekspor Indonesia sangat bergantung pada harga komoditas yang fluktuatif.
  3. Beban Fiskal dan Utang: Pengalokasian anggaran besar untuk program prioritas nasional (seperti Makan Bergizi Gratis dan proyek infrastruktur strategis) membatasi ruang gerak fiskal untuk stimulus sektor lain. Selain itu, beban pembayaran bunga utang yang tinggi diprediksi akan menekan APBN 2026.
  4. Ketidakpastian Global: Ancaman perang dagang yang dipicu oleh kebijakan tarif negara-negara besar serta ketegangan geopolitik di berbagai kawasan masih menjadi risiko eksogen yang menghambat arus investasi asing (PMA).

Pandangan Berbeda: Optimisme Pemerintah vs Realitas Pasar

Meski para ekonom bersikap konservatif, pemerintah melalui Kementerian Keuangan sebelumnya sempat menyampaikan nada optimis dengan target pertumbuhan di angka 5,2% hingga 5,8% untuk 2026. Namun, realitas di lapangan menunjukkan angka yang lebih mendekati proyeksi Bank Dunia dan Bank Indonesia yang berada di rentang 5,0% hingga 5,3%.

Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menilai bahwa meskipun ada resiliensi domestik, tantangan global tetap menjadi batu sandungan.

“Ekonomi kita kelihatan stabil, tapi banyak indikator fundamental yang bilang hati-hati. Ada yang sedang tidak baik-baik saja,” ungkap peneliti INDEF, Salsa Azkia, senada dengan pernyataan di Kontan.

Risiko Gagal Bayar dan Fragilitas Ekonomi

Analisis yang lebih tajam datang dari Bright Institute. Ekonom Awalil Rizky memperingatkan bahwa jika konsumsi rumah tangga terus menurun dan investasi tidak segera digenjot, ada risiko ekonomi justru melambat lebih dalam ke angka di bawah 5%. Bahkan, ia menyoroti risiko partial default atau gagal bayar kewajiban utang pada paruh kedua 2026 jika rasio layanan utang (debt service ratio) terus membengkak melewati ambang batas aman.