GARIS NARASI – Ketegangan di Selat Taiwan mencapai titik didih tertinggi di akhir tahun ini. Menanggapi latihan militer besar-besaran yang digelar oleh Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) China dengan sandi “Justice Mission 2025”, Pemerintah Taiwan mengambil langkah tegas dengan mengerahkan armada jet tempur F-16V dan kapal-kapal perang ke garis depan perbatasan. Langkah ini disebut sebagai upaya “gertak balik” untuk menunjukkan bahwa pulau tersebut tidak akan tunduk pada tekanan intimidasi militer.
Eskalasi Misi Justice Mission 2025
Sejak Senin (29/12/2025), China telah meluncurkan simulasi blokade total terhadap pelabuhan-pelabuhan utama di Taiwan. Dalam laporan terbaru dari Kementerian Pertahanan Taiwan (MND), sebanyak 130 pesawat militer dan 22 kapal angkatan laut serta penjaga pantai China terdeteksi beroperasi di sekeliling pulau hanya dalam waktu 24 jam.
Latihan ini bukan sekadar simulasi biasa. PLA secara terbuka menyatakan bahwa manuver ini bertujuan untuk “menghancurkan para separatis” dan memberikan peringatan keras terhadap intervensi asing, terutama setelah Amerika Serikat menyetujui paket penjualan senjata senilai USD 11 miliar ke Taiwan. China juga menetapkan tujuh hingga delapan “zona bahaya sementara” yang mengganggu rute penerbangan sipil dan jalur perdagangan internasional di kawasan tersebut.
Respons Tegas: F-16V Mengunci Target
Tidak tinggal diam, Angkatan Udara Taiwan segera mengerahkan jet tempur F-16V Block 20 dari Pangkalan Hualien. Dalam sebuah rekaman video yang dirilis secara resmi oleh MND, terlihat jet tempur Taiwan melakukan pemantauan ketat terhadap pesawat tempur J-16 milik China.
Yang menarik perhatian dunia militer adalah penggunaan AN/AAQ-33 Sniper Advanced Targeting Pod pada jet F-16V Taiwan. Teknologi ini memungkinkan pilot Taiwan untuk mengunci dan melacak jet tempur China melalui sensor optik pasif tanpa harus mengaktifkan radar. Dengan cara ini, Taiwan bisa mengintai pergerakan lawan tanpa memicu peringatan radar pada kokpit pesawat China, sebuah manuver yang menunjukkan kecanggihan teknologi pertahanan Taiwan sekaligus sebagai pesan bahwa mereka siap melakukan serangan balasan jika diperlukan.
Di laut, Kapal Fregat kelas Cheng Kung, Tian Dan, dikerahkan untuk membayangi kapal perusak China, Anyang, yang mencoba mendekati zona tambahan (contiguous zone) Taiwan. Personel Angkatan Laut Taiwan dilaporkan tetap berada dalam status siaga tempur penuh, dengan perintah untuk melakukan “pembelaan diri secara proporsional” jika kedaulatan wilayah mereka dilanggar.
Geopolitik dan Zona Bahaya
Situasi ini semakin rumit karena keterlibatan aktor regional lainnya. Perdana Menteri Jepang yang baru, Sanae Takaichi, sempat memberikan sinyal bahwa Tokyo kemungkinan besar akan turun tangan jika terjadi invasi terhadap Taiwan. Pernyataan ini menjadi salah satu pemicu kemarahan Beijing yang kemudian melancarkan latihan “Justice Mission 2025” sebagai simulasi untuk mencegah bantuan luar negeri mencapai pulau tersebut.
Menteri Pertahanan Taiwan, Wellington Koo, menyatakan bahwa tindakan China sangat provokatif dan merusak stabilitas regional.
“Kami telah menyesuaikan kesiapan tempur dan pelatihan kami untuk melawan ancaman ini. Interval antara latihan rutin dan transisi ke pertempuran nyata oleh China semakin pendek, dan kami harus siap menghadapi segala kemungkinan,” ujar Koo dalam konferensi pers di Taipei.
Dampak Ekonomi dan Sipil
Ketegangan ini tidak hanya berdampak pada militer. Otoritas penerbangan sipil Taiwan terpaksa mencari rute alternatif bagi puluhan penerbangan internasional karena adanya zona latihan tembak langsung (live-fire) di sekitar Taipei. Selain itu, aktivitas nelayan di perairan timur dan selatan Taiwan terhenti total karena risiko terkena peluru nyasar atau gesekan antar-kapal penjaga pantai.
Analis militer memandang bahwa pengerahan F-16V dan kapal perang oleh Taiwan adalah strategi deterrence (pencegahan) asimetris. Meskipun secara jumlah personel dan alat utama sistem senjata (alutsista) Taiwan kalah jauh dari China, kualitas teknologi dan kesiapan operasional yang ditunjukkan dalam beberapa hari terakhir bertujuan untuk menaikkan “biaya” yang harus dibayar Beijing jika mereka benar-benar memutuskan untuk menyerang.
Hingga Selasa malam (30/12/2025), situasi di Selat Taiwan masih sangat mencekam. Kedua belah pihak tetap menempatkan aset tempur terbaik mereka dalam jarak yang sangat dekat, meningkatkan risiko terjadinya insiden yang tidak disengaja di tengah laut maupun udara.
