China Percepat Mandiri Chip: Strategi Hadapi Sanksi Teknologi AS

China Percepat Mandiri Chip Strategi Hadapi Sanksi Teknologi AS

GARIS NARASI – Memasuki awal tahun 2026, peta persaingan teknologi dunia mengalami pergeseran drastis. China, yang selama bertahun-tahun berada di bawah bayang-bayang ketergantungan pada teknologi Barat, kini dilaporkan telah memacu mesin industrinya ke level tertinggi guna mencapai kemandirian semikonduktor. Langkah agresif ini merupakan respons langsung terhadap serangkaian sanksi ekspor chip canggih dan peralatan litografi yang diberlakukan oleh Amerika Serikat dan sekutunya.

Kebijakan 50 Persen dan Mandat Lokal

Pemerintah Beijing baru-baru ini memperketat regulasi bagi produsen chip domestik. Berdasarkan laporan terbaru, otoritas China kini mewajibkan pabrik-pabrik semikonduktor lokal untuk menggunakan setidaknya 50% peralatan buatan dalam negeri dalam setiap ekspansi fasilitas atau pembangunan pabrik baru (fab).

Kebijakan ini bukan sekadar imbauan, melainkan syarat mutlak bagi perusahaan yang ingin mendapatkan kucuran dana dari Big Fund fase ketiga dana investasi negara senilai 344 miliar yuan (sekitar Rp750 triliun) yang didedikasikan khusus untuk riset dan produksi chip. Upaya ini membuahkan hasil signifikan; perusahaan seperti Naura Technology dan AMEC melaporkan lonjakan pendapatan masing-masing sebesar 30% hingga 44% pada paruh pertama tahun lalu, menunjukkan bahwa ekosistem lokal mulai mampu menggantikan peran vendor global.

Terobosan Mesin Litografi: Proyek Manhattan China

Salah satu titik balik paling krusial adalah kemajuan dalam teknologi litografi Extreme Ultraviolet (EUV). Selama ini, perusahaan Belanda ASML memegang monopoli atas mesin yang mampu mencetak sirkuit berukuran nanometer tersebut. Namun, laporan investigasi mengungkapkan bahwa para ilmuwan China di Shenzhen telah berhasil membangun prototipe mesin EUV yang operasional.

Proyek yang dijuluki sebagai Proyek Manhattan versi teknologi ini melibatkan mantan insinyur ASML dan peneliti dari lembaga riset top seperti Changchun Institute of Optics. Meskipun mesin tersebut belum memasuki tahap produksi massal secara efisien, keberhasilan menghasilkan cahaya EUV di laboratorium dalam negeri menandai berakhirnya isolasi total China terhadap teknologi tercanggih dunia. Targetnya, pada tahun 2028 hingga 2030, China diproyeksikan mampu memproduksi chip 5nm atau bahkan 2nm secara mandiri tanpa bantuan peralatan Barat.

Dominasi Chip AI dan Kebangkitan Huawei

Di sektor Kecerdasan Buatan (AI), China mengambil langkah berani dengan melarang penggunaan chip AI asing di pusat-pusat data yang didanai pemerintah. Langkah ini memberikan panggung utama bagi Huawei dan unit chip ByteDance untuk unjuk gigi.

Huawei, melalui seri prosesor Ascend, dilaporkan telah meningkatkan kapasitas produksinya hingga tiga kali lipat. Sementara itu, ByteDance berhasil mengembangkan chip internal yang kinerjanya diklaim menyamai chip H20 milik Nvidia namun dengan efisiensi biaya yang lebih baik. Keberhasilan model bahasa besar seperti DeepSeek-R1 yang dioptimalkan pada ekosistem chip lokal membuktikan bahwa China tidak lagi sekadar meniru, tetapi mulai membangun standar teknologi mereka sendiri.

Dinamika Diplomatik dan Respons Global

Meskipun China terus memacu kemandirian, hubungan dagang dengan AS tetap dinamis. Pada akhir 2025, Presiden AS Donald Trump memberikan kelonggaran terbatas dengan mengizinkan penjualan chip Nvidia H200 ke pasar China, namun dengan syarat pungutan tambahan sebesar 25%.

Langkah ini dilihat oleh para analis sebagai upaya AS untuk tetap menjaga aliran pendapatan dari pasar China yang masif, sekaligus mencegah China mempercepat risetnya lebih jauh. Namun, bagi Beijing, kelonggaran ini hanya dianggap sebagai solusi sementara. “Kemandirian bukan lagi pilihan, melainkan keharusan untuk keamanan nasional,” ungkap seorang eksekutif senior dari SMIC (Semiconductor Manufacturing International Corporation).

Tantangan yang Masih Membayang

Meski menunjukkan kemajuan pesat, China masih menghadapi tantangan berat dalam hal yield rate (tingkat keberhasilan produksi). Produksi chip 7nm oleh SMIC dikabarkan masih memiliki biaya produksi yang tinggi dibandingkan dengan TSMC di Taiwan. Selain itu, akses terhadap bahan kimia khusus (photoresist) dan perangkat lunak desain chip (EDA) masih menjadi celah yang berusaha ditutup oleh Beijing melalui investasi besar-besaran di universitas dan lembaga riset nasional.

Dengan target mencapai swasembada 70% pada komponen inti pada akhir dekade ini, China sedang mempertaruhkan segalanya dalam perang teknologi ini. Dunia kini memperhatikan apakah raksasa Asia ini mampu mematahkan dominasi teknologi Barat atau justru terjebak dalam inefisiensi produksi akibat isolasi.