GARIS NARASI – Kawasan wisata Malioboro, Yogyakarta, kembali menjadi sorotan publik setelah sebuah video singkat yang memperlihatkan seekor kuda andong terjatuh dan tergeletak di aspal viral di media sosial. Video yang beredar luas pada awal Januari 2026 tersebut memicu beragam spekulasi dari netizen, dengan narasi dominan yang menyebutkan bahwa hewan tersebut ambruk akibat kelelahan melayani membludaknya wisatawan di masa libur Natal dan Tahun Baru (Nataru).
Namun, tudingan tersebut segera ditepis oleh pihak pengelola. Koperasi Jasa Andong Wisata Yogyakarta memberikan klarifikasi resmi untuk meluruskan kronologi dan penyebab sebenarnya di balik insiden yang mengejutkan pengunjung di jantung Kota Pelajar tersebut.
Kronologi Kejadian: Faktor Psikologis dan Teknis
Berdasarkan keterangan dari Pengawas Koperasi Jasa Andong Wisata Yogyakarta, Anggo Setiawan, insiden tersebut terjadi pada Kamis sore, 1 Januari 2026. Peristiwa ini bermula tepat setelah andong tersebut selesai mengantar penumpang di area Jalan Abu Bakar Ali, dekat bekas Hotel Inna Garuda.
Anggo menjelaskan bahwa kuda yang jatuh tersebut sebenarnya dalam kondisi fisik yang sehat dan prima. Namun, kuda tersebut mengalami kondisi psikologis yang disebut sebagai nervous atau gugup saat melewati titik-titik tertentu di kawasan Malioboro.
“Kuda itu kalau lewat depan Garuda sama Jalan Sosrowijayan memang sering merasa kurang nyaman, kayak nervous begitu,” ujar Anggo saat dikonfirmasi pada Jumat (2/1).
Kondisi nervous ini memicu reaksi fisik yang tidak terduga. Saat merasa tidak nyaman, kuda sebelah kiri tiba-tiba menendang ke arah tengah. Naasnya, kaki kanan kuda tersebut melompati kayu sekat atau setang yang memisahkan dua kuda dalam satu rangkaian andong. Dalam istilah teknis perandongan, kejadian ini disebut sebagai “langkah bum” atau “langkah bom”.
Upaya Penyelamatan oleh Kusir
Akibat kaki yang tersangkut pada sekat kayu, posisi kuda menjadi tidak stabil dan tidak dapat berdiri dengan sempurna. Melihat situasi tersebut, sang kusir segera turun dari bangku kemudi untuk mencoba membetulkan posisi kaki kuda yang terjepit.
Namun, reaksi alami kuda saat merasa terancam atau panik adalah berlari. Ketika kusir mencoba menarik kakinya agar lepas dari sekat, kuda tersebut justru kaget dan mencoba memacu lari. Demi mencegah andong meluncur tak terkendali ke arah selatan (jalur padat Malioboro) yang bisa membahayakan keselamatan wisatawan, kusir mengambil tindakan preventif yang drastis.
Kusir memutuskan untuk membanting arah dan mendorong kuda ke sisi kanan agar berhenti. Akibat manuver darurat ini, kuda di sisi kanan yang sebenarnya berperilaku patuh ikut terseret dan akhirnya terjatuh. Inilah momen yang kemudian terekam oleh kamera warga dan viral dengan narasi kuda ambruk karena kelelahan.
Kondisi Kuda dan Kusir Pasca-Insiden
Pasca-kejadian, pihak koperasi memastikan bahwa kuda tersebut tidak mengalami cedera serius dan telah mendapatkan perawatan yang semestinya. Koperasi menegaskan bahwa tidak ada unsur eksploitasi berlebihan yang menyebabkan kuda kehilangan tenaga.
Ironisnya, sang kusir justru menjadi korban dalam insiden penyelamatan tersebut. Saat berupaya menenangkan kudanya, kepala kusir sempat beradu dengan kepala kuda yang sedang panik, mengakibatkan sang kusir mengalami pusing hebat dan harus beristirahat.
Manajemen Kuda di Musim Libur Nataru
Menanggapi kekhawatiran publik mengenai beban kerja hewan selama musim liburan, Anggo menjelaskan bahwa Koperasi Jasa Andong Wisata telah menerapkan sistem shifting yang ketat. Selama periode Nataru 2025/2026, sekitar 80 persen dari total 302 anggota koperasi memang beroperasi, namun tetap dengan aturan jam kerja yang manusiawi bagi hewan.
“Kuda tidak diforsir. Ada yang berangkat jam 05.00 pagi dan jam 09.00 sudah pulang. Ada juga yang baru berangkat siang atau khusus malam. Para kusir sangat memahami kemampuan kuda mereka masing-masing,” tambah Anggo.
Insiden ini tercatat sebagai satu-satunya kejadian menonjol terkait kesehatan hewan andong selama masa libur pergantian tahun di Yogyakarta. Pihak koperasi juga terus mengimbau para kusir untuk lebih peka terhadap kondisi psikologis kuda, terutama saat melewati area yang dianggap sensitif bagi kenyamanan hewan.
Edukasi Bagi Wisatawan
Pihak berwenang dan komunitas andong berharap masyarakat tidak langsung memberikan stigma negatif tanpa mengetahui duduk perkara teknis di lapangan. Sebagai bagian dari warisan budaya takbenda, keberadaan andong di Malioboro terus diawasi baik dari sisi kelayakan kendaraan maupun kesejahteraan hewannya.
Kini, lalu lintas di kawasan Malioboro telah kembali normal, dan andong-andong wisata tetap beroperasi sebagai ikon transportasi tradisional yang paling diminati wisatawan untuk menikmati suasana syahdu Yogyakarta.
