Maduro Ditangkap Pasukan AS, Trump Tepati Janji Hadiah $50 Juta

Maduro Ditangkap Pasukan AS, Trump Tepati Janji Hadiah $50 Juta

GARIS NARASI – Dunia internasional dikejutkan oleh kabar penangkapan Presiden Venezuela, Nicolás Maduro, beserta istrinya, Cilia Flores, dalam sebuah operasi militer skala besar yang diluncurkan oleh Amerika Serikat pada Sabtu dini hari, 3 Januari 2026. Penangkapan ini menandai puncak dari ketegangan bertahun-tahun antara Washington dan Caracas, serta realisasi dari janji lama Presiden Donald Trump untuk menyeret Maduro ke meja hijau.

Kronologi Serangan Fajar Merah di Caracas

Operasi dimulai sekitar pukul 02.00 waktu setempat ketika serangkaian ledakan hebat mengguncang ibu kota Caracas. Menurut laporan saksi mata dan rekaman amatir yang beredar di media sosial, pesawat tempur dan drone AS terlihat terbang rendah di atas distrik militer Fort Tiuna dan Istana Kepresidenan Miraflores.

Dalam sebuah pernyataan singkat namun dramatis di platform Truth Social, Presiden Donald Trump mengonfirmasi keberhasilan operasi tersebut.

“Amerika Serikat telah berhasil melakukan serangan skala besar terhadap Venezuela dan pemimpinnya, Nicolás Maduro. Dia, bersama istrinya, telah ditangkap dan diterbangkan keluar dari negara tersebut. Operasi ini dilakukan bersama dengan penegak hukum AS. Detail akan menyusul,” tulis Trump.

Laporan dari CBS News menyebutkan bahwa unit elit Angkatan Darat AS, Delta Force, menjadi ujung tombak dalam penangkapan fisik Maduro di sebuah lokasi yang dirahasiakan sebelum ia sempat melarikan diri ke bunker bawah tanah.

Hadiah 50 Juta Dolar dan Tuduhan Narkoterorisme

Penangkapan ini bukan tanpa alasan. Sejak masa jabatan pertamanya, Donald Trump telah menargetkan Maduro atas tuduhan konspirasi narkoterorisme. Pada Maret 2020, Departemen Kehakiman AS secara resmi mendakwa Maduro karena diduga memimpin “Cartel of the Suns” yang menyelundupkan berton-ton kokain ke Amerika Serikat.

Pada Agustus 2025, pemerintahan Trump menaikkan nilai hadiah bagi siapa pun yang bisa memberikan informasi yang berujung pada penangkapan Maduro menjadi 50 juta dolar AS (sekitar Rp775 miliar). Angka ini merupakan rekor tertinggi dalam sejarah Program Hadiah Narkotika AS, melampaui hadiah untuk penangkapan Osama bin Laden yang sebesar 25 juta dolar AS.

Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, menyatakan bahwa tindakan militer ini adalah langkah defensif untuk menegakkan surat perintah penangkapan internasional dan melindungi keamanan nasional AS dari aliran narkoba yang disponsori negara.

“Maduro akan diadili di Distrik Selatan New York atas kejahatan terhadap kemanusiaan dan perdagangan narkoba lintas negara,” tegas Rubio.

Kondisi Darurat di Venezuela

Sementara itu, kondisi di Venezuela saat ini berada dalam ketidakpastian total. Wakil Presiden Delcy Rodríguez muncul di televisi pemerintah beberapa jam setelah serangan, menyatakan bahwa pemerintah tidak mengetahui keberadaan Maduro dan menuntut “bukti kehidupan” (proof of life) dari suaminya dan sang Ibu Negara.

“Kami mengutuk agresi kekaisaran yang pengecut ini. Rakyat Venezuela harus bersatu melawan invasi ini,” ujar Rodríguez sebelum siaran televisi sempat mengalami gangguan teknis akibat pemadaman listrik di beberapa wilayah Caracas.

Menteri Pertahanan Venezuela, Vladimir Padrino López, memerintahkan mobilisasi penuh pasukan militer untuk mempertahankan kedaulatan negara, menyebut penangkapan tersebut sebagai penculikan ilegal oleh pasukan asing.

Dunia Internasional Terbelah

Reaksi global terhadap peristiwa ini sangat beragam. Presiden Argentina, Javier Milei, secara terbuka merayakan penangkapan tersebut di media sosial dengan slogan khasnya, “Viva la Libertad Carajo!”, menyebutnya sebagai langkah besar bagi demokrasi di Amerika Latin.

Sebaliknya, negara-negara sekutu Maduro mengecam keras aksi militer AS. Tiongkok dan Rusia dilaporkan tengah mempersiapkan pertemuan darurat di Dewan Keamanan PBB, menuduh Amerika Serikat melakukan intervensi militer ilegal terhadap negara berdaulat.

Apa Selanjutnya?

Hingga laporan ini diturunkan, pesawat yang membawa Maduro dilaporkan tengah menuju lokasi yang dirahasiakan di Amerika Serikat, kemungkinan besar Florida atau New York, di bawah pengawalan ketat jet tempur F-22 Raptor. Gedung Putih telah menjadwalkan konferensi pers resmi di Mar-a-Lago untuk memberikan rincian lebih lanjut mengenai proses hukum yang akan dihadapi oleh pasangan tersebut.

Peristiwa ini menandai berakhirnya era kepemimpinan Maduro yang telah berlangsung sejak 2013, namun juga membuka babak baru ketidakpastian politik di wilayah Amerika Selatan yang kaya akan cadangan minyak tersebut.