Inhil Dilanda Banjir Rob: Ribuan Rumah di Tembilahan Terendam

Inhil Dilanda Banjir Rob Ribuan Rumah di Tembilahan Terendam

GARIS NARASI – Memasuki minggu pertama di bulan Januari 2026, masyarakat Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), khususnya di wilayah pesisir dan ibu kota Tembilahan, kembali harus berhadapan dengan fenomena tahunan yang kian mengkhawatirkan. Banjir pesisir atau yang lebih dikenal sebagai banjir rob kembali merendam ribuan rumah warga, fasilitas umum, hingga akses jalan protokol.

Kondisi tahun ini dilaporkan lebih parah dibandingkan periode sebelumnya. Hal ini disebabkan oleh kombinasi maut antara fenomena pasang air laut maksimum dan tingginya intensitas curah hujan yang mengguyur wilayah “Negeri Seribu Parit” tersebut dalam beberapa hari terakhir.

Penyebab Utama: Sinergi Alam yang Merugikan

Berdasarkan data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Riau dan BMKG, banjir rob kali ini dipicu oleh dua faktor utama. Pertama adalah fase Perigee, yaitu kondisi di mana Bulan berada pada titik terdekatnya dengan Bumi yang terjadi pada awal Januari 2026. Kondisi ini bertepatan dengan fase Bulan Purnama yang meningkatkan daya tarik gravitasi, memicu kenaikan permukaan air laut secara signifikan melampaui batas normal.

Kedua, curah hujan yang sangat tinggi di daratan membuat air sungai tidak dapat mengalir ke laut karena tertahan oleh air pasang.

“Curah hujan di sana belakangan ini cukup tinggi, sehingga membuat air lebih cepat naik dan lebih lambat surut,” ungkap Kepala BPBD Riau, Edy Afrizal, dalam keterangannya pada Kamis (8/1/2026).

Dampak Luas di Tembilahan dan Sekitarnya

Genangan air mulai memasuki permukiman warga sejak pukul 14.00 WIB dan mencapai puncaknya pada sore hari. Di beberapa titik rendah seperti Jalan Jenderal Sudirman, Jalan HR Soebrantas, dan kawasan pasar di Tembilahan, ketinggian air terpantau bervariasi antara 30 hingga 60 sentimeter.

Dampaknya tidak hanya merendam hunian, tetapi juga melumpuhkan sektor ekonomi. Banyak pedagang di pasar tradisional terpaksa menutup lapak lebih awal karena air masuk ke dalam ruko. Kendaraan roda dua maupun roda empat banyak yang mogok akibat nekat menerjang genangan air asin yang korosif.

“Setiap tahun memang banjir, tapi awal 2026 ini airnya terasa lebih tinggi dan masuknya cepat sekali. Barang-barang di rumah sudah kami naikkan ke atas meja sejak pagi,” ujar Mahyuni, salah seorang warga Tembilahan yang terdampak.

Ancaman Bencana Ekologis dan Infrastruktur

Selain di pusat kota, banjir rob juga memberikan dampak serius di wilayah pedesaan seperti di Kecamatan Kuala Indragiri (Kuindra) dan Tembilahan Hulu. Struktur tanah yang didominasi gambut membuat kawasan ini rentan terhadap abrasi. Laporan terbaru menyebutkan adanya beberapa rumah warga yang mengalami kerusakan struktur akibat tanah yang amblas tergerus arus air pasang.

Para petani kelapa di Inhil juga menyuarakan kekhawatiran serupa. Intrusi air asin yang semakin jauh masuk ke daratan mengancam kesehatan pohon kelapa rakyat yang menjadi tulang punggung ekonomi daerah. Air asin yang menggenangi perkebunan dalam waktu lama dapat menyebabkan produktivitas kelapa menurun drastis, bahkan mematikan tanaman.

Langkah Pemerintah dan Imbauan BPBD

Merespons situasi ini, BPBD Riau telah menyiagakan personel dan bantuan logistik. Meskipun belum ada instruksi pengungsian massal, posko darurat dan bantuan tenda telah disiapkan di titik-titik rawan. Pemerintah Provinsi Riau juga terus berkoordinasi dengan Pemkab Inhil untuk memantau detail jumlah korban terdampak guna penyaluran bantuan sosial.

BPBD mengimbau masyarakat untuk:

  1. Waspada Kelistrikan: Segera mematikan aliran listrik jika air sudah mulai masuk ke dalam rumah untuk menghindari risiko tersengat arus listrik.
  2. Keamanan Hewan Melata: Mewaspadai munculnya hewan berbisa seperti ular atau buaya yang seringkali terbawa arus banjir masuk ke permukiman.
  3. Pantau Informasi BMKG: Masyarakat diminta terus memperbarui informasi cuaca karena potensi rob diprediksi masih akan bertahan hingga pertengahan Januari 2026.

Fenomena ini menjadi pengingat bagi pemerintah daerah untuk segera mempercepat pembangunan infrastruktur pengendali banjir, seperti tanggul permanen dan revitalisasi sistem drainase (parit) yang menjadi ciri khas wilayah Indragiri Hilir. Tanpa aksi iklim yang nyata, ancaman rob akan terus menghantui ekonomi dan keselamatan warga di pesisir Riau.