Bahlil Lahadalia Pernah Jadi Sopir Angkot di Fakfak

Bahlil Lahadalia Pernah Jadi Sopir Angkot di Fakfak

GARIS NARASI – Salah satu bagian paling menonjol dari perjalanan hidup Bahlil adalah ketika kisah masa muda Bahlil Lahadalia pernah jadi sopir angkot di Fakfak. Di masa remajanya, saat SMA di Fakfak, Bahlil bekerja sebagai sopir angkot demi menyokong kebutuhan hidup dan biaya sekolah. Bahkan, ia pernah menghabiskan sebagian besar waktunya di terminal Thumburuni Fakfak.

Dalam wawancara nostalgia, Bahlil menyebut terminal itu sebagai tempat bermainnya dulu. Pada momen itu, ia bahkan menyetir kembali angkot putih yang mirip dengan kendaraan yang dulu ia kemudikan. Menurut pengakuannya, angkot yang dulu ia kendarai terasa jauh lebih sederhana: stir-nya berat karena belum ada power steering, tetapi ia mampu mengendalikannya dengan santai.

Lebih dari itu, Bahlil menegaskan bahwa angkot tersebut bukan miliknya ia hanya menjadi sopir. Ia juga mengungkapkan bahwa di masa muda, makanan saja kadang sulit didapatkan. “Makan aja susah,” katanya dalam wawancara saat kunjungan ke Fakfak.

Masa Remaja di Terminal Thumburuni

Menurut pengakuan Bahlil, pada tahun 1990-an, ia menghabiskan sebagian besar masa remajanya di Terminal Thumburuni, Fakfak, tempat ia biasa mangkal sebagai sopir angkot. Di terminal ini, Bahlil bukan hanya mengemudi, tetapi menjalin ikatan kuat dengan kehidupan masyarakat lokal terminal itu bahkan disebutnya “tempat bermain saya dulu.”

Aktor nostalgia semakin terasa saat ia melihat angkot putih berjenis Suzuki Carry yang sangat mirip dengan kendaraan lawas yang pernah ia kemudikan di masa muda. Meskipun mobil angkotnya dulu jauh lebih sederhana tanpa power steering Bahlil masih mampu mengendalikan setir dengan santai, bahkan ia sempat membawa mobil tersebut berkeliling terminal seperti dulu.

Perjuangan Ekonomi dan Pendidikan

Walau pekerjaannya keras, Bahlil tak pernah mengesampingkan pendidikan. Saat masih SMA di Fakfak, ia bekerja sebagai sopir angkot demi menutupi biaya hidup dan sekolah. Bahkan, ia juga sempat menjadi kondektur angkot sebelum menjadi sopir penuh waktu.

Kehidupan keluarganya juga jauh dari kemewahan. Ia lahir dalam keluarga sederhana; ayahnya bekerja sebagai buruh bangunan dan ibunya sebagai tukang cuci. Bahlil pernah mengaku, “makan aja susah” saat masa mudanya di Fakfak.

Usai lulus SMA, tekadnya untuk kuliah sangat besar meski keterbatasan materi. Ia merantau ke Jayapura, hanya membawa ijazah SMA, tiga stel pakaian, SIM, dan sebuah kantong kresek. Namun kehidupannya tak mudah di kota perantauan. Ia sempat kesulitan mendapatkan tempat di kampus, bahkan harus mengandalkan ketua asrama untuk bisa masuk perguruan tinggi swasta.

Sambil kuliah, ia tetap bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup. Pekerjaan yang dilakoninya sangat beragam: mendorong gerobak belanja di pasar, menjual koran, hingga menjadi pekerja kasar. Puncaknya, di semester enam, Bahlil pernah mengalami kelaparan berat yang bahkan menyebabkan “busung lapar.”

Titik Balik: Aktivis dan Pengusaha

Di masa kuliah, Bahlil tak hanya berjuang secara ekonomi tetapi juga aktif di organisasi kemahasiswaan. Ia pernah menjabat sebagai bendahara Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan menjadi ketua senat mahasiswa. Pengalaman ini membentuk mental kepemimpinannya dan memperkaya jaringan sosialnya.

Kemudian, masa sulit yang ia jalani menjadi titik balik. Ia menyadari bahwa menjadi pengusaha dapat mengubah nasibnya. Dengan kerja keras dan visi, Bahlil mendirikan perusahaan konsultan bersama teman-temannya, termasuk PT Rifa Capital. Bisnisnya berkembang pesat di sektor transportasi, properti, dan investasi. Dari sopir angkot dan pekerja kasar, kini ia menjadi tokoh nasional sebagai Menteri Investasi (dulu Kepala BKPM) dan Ketua Umum Partai Golkar.

Momen Nostalgia sebagai Menteri

Kunjungan kerja Bahlil ke Fakfak pada 17 November 2025 menjadi lebih dari sekadar tugas kenegaraan. Ia menyempatkan diri untuk bernostalgia dengan masa lalunya, mengajak sopir angkot lokal hingga seorang kenek (konduktor) ikut memainkan peran seperti dalam kenangan lamanya.

Dalam momen itu, Bahlil bercanda meminta kenek untuk menirukan gaya panggilan khas “kota, kota, kota” saat mencari penumpang, sambil dirinya mengemudi dengan santai, satu tangan di setir meskipun angkot tidak dilengkapi power steering.

Dia juga sempat menyatakan bahwa angkot yang ia kendarai dulu bukan miliknya, melainkan hanya ia operasikan. Dan di sela kunjungan, ia menegaskan bahwa masa muda yang penuh perjuangan adalah fondasi suksesnya saat ini.