Banjir Balangan Kalsel: Masa Darurat Hingga Januari 2026, 10.949 Warga Terdampak

Banjir Balangan Kalsel Masa Darurat Hingga Januari 2026, 10.949 Warga Terdampak

GARIS NARASI – Kabupaten Balangan, Kalimantan Selatan (Kalsel), saat ini tengah menghadapi salah satu bencana banjir terparah dalam beberapa tahun terakhir. Akibat curah hujan ekstrem yang mengguyur sejak Jumat (26/12/2025) malam, ribuan rumah terendam dan akses infrastruktur di beberapa kecamatan lumpuh total. Menanggapi eskalasi bencana ini, Pemerintah Kabupaten Balangan secara resmi menetapkan status Tanggap Darurat Bencana yang berlaku hingga awal Januari 2026.

Berdasarkan data terbaru dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Balangan, sebanyak 10.949 jiwa dilaporkan terdampak langsung oleh bencana ini. Banjir tidak hanya merendam pemukiman, tetapi juga memicu banjir bandang di wilayah hulu yang membawa material lumpur dan kayu, memperparah kerusakan pada bangunan warga.

Kronologi dan Sebaran Wilayah Terdampak

Banjir mulai naik dengan cepat setelah hujan dengan intensitas sangat tinggi melanda wilayah pegunungan Meratus dan merembet ke aliran Sungai Balangan serta Sungai Pitap. Debit air yang meluap tidak mampu lagi ditampung oleh drainase dan aliran sungai, sehingga merendam sedikitnya 27 desa di 7 kecamatan.

Adapun wilayah yang terdampak paling parah meliputi:

  1. Kecamatan Tebing Tinggi: Merupakan titik awal banjir bandang. Desa-desa seperti Desa Mayanau, Sungsum, dan Ju’uh mengalami kerusakan infrastruktur yang signifikan, termasuk jembatan gantung yang putus.
  2. Kecamatan Awayan: Akses jalan utama yang menghubungkan Awayan dengan Tebing Tinggi terputus akibat luapan air dan material longsor.
  3. Kecamatan Halong: Ribuan rumah di desa-desa bantaran sungai terendam dengan ketinggian air mencapai 1 hingga 2 meter pada titik terdalam.
  4. Kecamatan Paringin Selatan dan Paringin Kota: Air mulai memasuki kawasan perkotaan dan pusat pemerintahan sejak Minggu pagi.

Data Kerusakan dan Dampak Sosial

Hingga Senin (29/12/2025), BPBD mencatat sedikitnya 3.511 unit rumah warga terendam air. Di beberapa titik di Kecamatan Tebing Tinggi, air sempat mencapai ketinggian atap rumah pada puncak banjir bandang hari Sabtu lalu.

“Kami sangat prihatin atas musibah ini. Fokus utama kami saat ini adalah keselamatan warga dan penyaluran logistik ke titik-titik yang terisolasi,” ujar Bupati Balangan, Abdul Hadi, saat meninjau lokasi terdampak di Desa Ju’uh.

Selain rumah tinggal, fasilitas publik seperti sekolah, tempat ibadah, dan lahan pertanian warga juga mengalami kerusakan berat. Banyak warga yang kehilangan harta benda karena tidak sempat menyelamatkan barang-barang saat air bah datang tiba-tiba di malam hari.

Status Tanggap Darurat dan Upaya Penanganan

Melalui Surat Keputusan Bupati, Pemkab Balangan menetapkan masa Tanggap Darurat Bencana selama 7 hari, terhitung sejak 28 Desember 2025 hingga 3 Januari 2026. Penetapan ini memungkinkan pemerintah daerah untuk lebih cepat memobilisasi anggaran darurat dan mengoordinasikan bantuan lintas sektoral.

Upaya penanganan saat ini melibatkan tim gabungan dari:

  • BPBD Balangan dan Provinsi Kalsel: Fokus pada evakuasi dan pendataan.
  • TNI dan Polri: Membantu pengamanan wilayah dan pembersihan sisa lumpur di fasilitas umum.
  • Relawan dan Masyarakat: Mendirikan dapur umum di beberapa titik strategis di setiap kecamatan terdampak.

Kapolres Balangan, AKBP Yulianor Abdi, menegaskan bahwa personelnya terus bersiaga 24 jam untuk melakukan patroli di pemukiman yang ditinggalkan pengungsi guna mencegah terjadinya tindak kriminalitas.

Kebutuhan Mendesak Pengungsi

Meskipun sebagian wilayah mulai menunjukkan tren air surut, warga masih sangat membutuhkan bantuan mendasar. Lumpur tebal yang tertinggal di dalam rumah pasca-banjir bandang menjadi kendala utama warga untuk kembali beraktivitas.

Bantuan yang paling dibutuhkan saat ini antara lain:

  • Mesin Alkon: Untuk membersihkan sisa lumpur di rumah-rumah dan fasilitas pendidikan.
  • Logistik dan Makanan Siap Saji: Terutama bagi lansia dan anak-anak di posko pengungsian.
  • Pakaian Layak Pakai dan Selimut: Mengingat cuaca yang masih sering hujan dan dingin.
  • Obat-obatan: Untuk mengantisipasi penyakit pascabanjir seperti gatal-gatal dan gangguan pencernaan.

Peringatan BMKG: Waspada Banjir Susulan

BMKG Kalimantan Selatan mengeluarkan peringatan dini terkait potensi cuaca ekstrem yang masih mungkin terjadi hingga pergantian tahun 2026. Fenomena hidrometeorologi ini dipicu oleh aktifnya bibit siklon di sekitar wilayah Indonesia yang membawa massa udara basah ke daratan Kalimantan.

Masyarakat diimbau untuk tetap waspada, terutama bagi mereka yang tinggal di bantaran sungai. Status siaga bencana ini diprediksi akan terus dipantau secara ketat hingga Januari 2026 mengingat puncak musim hujan masih berlangsung.