GARIS NARASI – Banjir yang dipicu oleh hujan intensitas tinggi selama beberapa hari terakhir terus meluas dan menyulitkan kehidupan masyarakat di wilayah Serang, Provinsi Banten. Hingga Jumat pagi, banjir telah merendam enam kecamatan di Kabupaten Serang dan sejumlah kawasan di Kota Serang. Kondisi ini merupakan peningkatan signifikan dibandingkan beberapa hari sebelumnya yang hanya melanda beberapa kecamatan saja.
Intensitas curah hujan yang tinggi sejak Rabu (16/12/2025) hingga Kamis (18/12/2025) menyebabkan sejumlah sungai seperti Cidanau, Cikalumpang, dan Ciherang meluap. Luapan sungai ini menggenangi pemukiman warga hingga ke jalan utama, fasilitas umum, dan area persawahan. Tinggi air bervariasi antara 50 cm hingga mencapai 1 meter di titik terendah hingga titik terparah.
Wilayah Terdampak dan Dampaknya
Menurut data terbaru dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Serang, banjir kini telah merendam sejumlah wilayah di enam kecamatan, yaitu:
- Padarincang
- Gunungsari
- Cinangka
- Ciomas
- Ciruas
- Kramatwatu
Kondisi terparah dilaporkan terjadi di Kampung Sukamaju, Desa Citasuk, Kecamatan Padarincang, dengan tinggi muka air (TMA) di dalam rumah mencapai 50–65 cm dan bahkan sampai sekitar 1 meter di luar rumah. Ribuan rumah terendam di beberapa desa dan puluhan ribu warga terkena dampaknya secara langsung maupun tidak langsung.
Di Kabupaten Serang, total terdapat 13 desa di enam kecamatan yang terdampak banjir, termasuk Desa Citasuk, Desa Padarincang, Desa Batukuwung, Desa Kalumpang, Desa Rancasanggal, Desa Ciherang, serta Desa Cigelam di Kecamatan Ciruas.
Sementara itu di Kota Serang, banjir menggenangi permukiman di tiga kecamatan, yakni Kasemen, Cipocok Jaya, dan Walantaka. Di kawasan Cipocok Jaya, tepatnya Kompleks Grand Sutra, ketinggian air mencapai sekitar 80 cm, turut merendam ratusan rumah hunian warga.
Korban dan Kerusakan
Berdasarkan laporan BPBD Kota Serang, banjir ini telah memengaruhi sekitar 3.516 jiwa dari 937 kepala keluarga (KK). Sebanyak 806 rumah terdampak banjir dan 15 jiwa mengungsi ke tempat aman setelah rumah mereka terendam air. Beberapa kejadian longsor dan rumah roboh juga tercatat di sejumlah titik terdampak.
Dampak banjir tidak hanya terbatas pada rumah warga, tetapi juga berbagai fasilitas umum dan akses transportasi. Jalan-jalan utama mengalami genangan, sehingga mobilitas masyarakat dan distribusi logistik daerah juga terganggu. BPBD setempat melaporkan bahwa sejumlah fasilitas pendidikan dan layanan umum sempat terdampak air, sehingga proses belajar mengajar dan beberapa layanan pemerintah desa juga terganggu.
Upaya Evakuasi dan Respons Pemerintah
Pemerintah daerah bersama BPBD telah mengerahkan tim gabungan, termasuk relawan dan petugas keamanan untuk melakukan evakuasi warga yang paling terdampak. Evakuasi terutama difokuskan pada daerah permukiman yang terendam dalam, serta untuk membantu warga yang kesulitan bergerak karena tingginya genangan air.
Selain evakuasi, BPBD dan instansi terkait juga telah mendirikan titik-titik posko bantuan untuk menyalurkan bantuan logistik darurat seperti makanan, kebutuhan pokok, hingga obat-obatan. Beberapa posko juga difungsikan sebagai tempat penampungan sementara warga yang rumahnya tidak lagi layak ditempati akibat banjir. Langkah ini dinilai penting agar warga yang terdampak mendapatkan bantuan secepatnya sambil menunggu air surut.
Pihak pemerintah daerah dan BPBD juga terus mengimbau warga untuk tetap waspada terhadap potensi hujan dan banjir susulan. Kondisi cuaca yang masih tidak stabil dan potensi hujan lebat menjadi ancaman lanjutan bagi warga di daerah rendah dan dataran banjir.
Peringatan dan Rekomendasi Ahli
Ahli meteorologi dan pejabat terkait mengingatkan bahwa fenomena banjir seperti ini kemungkinan besar akan terus berulang selama musim hujan masih berlangsung. Curah hujan yang tinggi dapat menyebabkan sungai kembali meluap jika tidak ada penanganan drainase yang memadai. Oleh karena itu, koordinasi lintas instansi baik di tingkat kota maupun kabupaten sangat dibutuhkan untuk mempercepat mitigasi dan menekan risiko kerusakan yang lebih parah.
Selain itu, masyarakat yang tinggal di dataran rendah dianjurkan untuk menyiapkan langkah kesiapsiagaan mandiri, seperti membuat jalur evakuasi sendiri, menjaga kebersihan saluran air di sekitar rumah, dan memantau informasi cuaca dari otoritas resmi secara berkala.
