GARIS NARASI – Institusi Tentara Nasional Indonesia (TNI) kembali berduka. Namun, kali ini duka tersebut diwarnai oleh kabar kelam mengenai dugaan kekerasan di internal kesatuan. Seorang prajurit muda bernama Pratu Farkhan Syauqi Marpaung, yang tengah mengemban tugas negara di wilayah perbatasan Papua, dilaporkan meninggal dunia pada akhir Desember 2025. Ironisnya, ia diduga tewas bukan karena kontak senjata dengan kelompok separatis, melainkan akibat penganiayaan yang dilakukan oleh oknum seniornya.
Kasus ini memicu gelombang kemarahan publik dan kesedihan mendalam bagi keluarga korban di Kabupaten Asahan, Sumatra Utara. Pihak TNI Angkatan Darat (AD) bertindak cepat dengan mengamankan terduga pelaku dan menjanjikan investigasi yang transparan demi menjaga martabat institusi.
Kronologi Kejadian: Sakit yang Berujung Maut
Berdasarkan informasi yang dihimpun dari keterangan keluarga dan laporan awal, peristiwa memilukan ini terjadi di Pos Sanepa, Distrik Homeyo, Kabupaten Intan Jaya, Papua Tengah, yang merupakan wilayah tugas Satgas Pamtas RI-PNG Yonif 113/Jaya Sakti.
Kejadian bermula pada Rabu, 31 Desember 2025. Saat itu, Pratu Farkhan dilaporkan dalam kondisi kesehatan yang kurang fit. Menurut sang ayah, Zakaria Marpaung, anaknya sempat menghubungi keluarga dan mengabarkan bahwa ia sedang menggigil, diduga menderita malaria atau tipes. Di tengah kondisi tubuh yang lemah, Farkhan terlihat sedang menghangatkan diri di dekat perapian di area dapur pos tersebut.
Namun, situasi berubah mencekam ketika seorang prajurit senior berpangkat Kopral (diduga Kopda F) mendatangi Farkhan. Alih-alih mendapatkan perawatan atau empati karena sakit, Farkhan justru diminta untuk keluar dan melakukan serangkaian tindakan disiplin yang tidak wajar.
Laporan menyebutkan bahwa korban diperintahkan untuk melakukan “sikap tobat” posisi kepala menumpu di tanah dengan tangan di belakang punggung di tengah kondisi fisiknya yang sedang sakit keras. Tak berhenti di situ, oknum senior tersebut diduga melakukan kekerasan fisik berupa pukulan menggunakan ranting kayu hingga tendangan keras ke arah dada korban. Farkhan sempat mencoba membela diri dan menjelaskan kondisinya, namun kekerasan terus berlanjut hingga ia jatuh pingsan. Meski sempat dilarikan ke tim kesehatan pos, nyawa prajurit asal Asahan ini tidak tertolong dan dinyatakan meninggal dunia sekitar pukul 14.15 WIT.
Respons Tegas Markas Besar TNI AD
Kepala Dinas Penerangan Angkatan Darat (Kadispenad), Brigjen TNI Donny Pramono, dalam keterangannya pada Minggu (4/1/2026), menegaskan bahwa pihaknya tidak akan menoleransi segala bentuk kekerasan di luar aturan hukum militer.
“Dugaan keterlibatan oknum prajurit senior telah ditindaklanjuti dengan mengamankan yang bersangkutan. TNI AD akan melakukan proses investigasi secara menyeluruh oleh unsur komando terkait untuk memastikan fakta secara objektif dan transparan,” tegas Brigjen Donny.
Saat ini, terduga pelaku telah dibawa ke Komando Taktis (Kotis) untuk menjalani pemeriksaan intensif oleh Polisi Militer. TNI AD berkomitmen untuk menjatuhkan sanksi hukum yang berat, termasuk kemungkinan pemecatan dari dinas militer, jika terbukti ada pelanggaran pidana yang mengakibatkan hilangnya nyawa.
Luka Mendalam bagi Keluarga
Di rumah duka yang terletak di Desa Hessa Air Genting, Kecamatan Air Batu, Asahan, isak tangis pecah saat jenazah Pratu Farkhan tiba. Sang ayah, Zakaria Marpaung, mengungkapkan kekecewaan yang sangat besar. Baginya, Farkhan adalah kebanggaan keluarga yang lulus menjadi prajurit pada tahun 2023 dengan semangat pengabdian yang tinggi.
“Yang saya kecewakan, anak saya mati di tangan sesama TNI, bukan di ujung senjata separatis. Dia sedang sakit, kenapa tidak ada empati? Kenapa justru dianiaya?” ujar Zakaria dengan suara bergetar. Keluarga menuntut agar proses hukum dijalankan seadil-adilnya tanpa ada yang ditutup-tupi.
Evaluasi Senioritas di Tubuh Militer
Tragedi ini kembali membuka diskursus mengenai budaya senioritas dan kekerasan dalam institusi militer yang masih sering terjadi. Kasus ini muncul hanya beberapa waktu setelah kasus serupa yang menimpa Prada Lucky di wilayah lain telah diproses hukum.
Pimpinan TNI menekankan bahwa pembinaan prajurit seharusnya didasarkan pada profesionalisme dan rasa persaudaraan sebagai rekan seperjuangan, terutama di daerah penugasan yang penuh risiko seperti Papua. Kekerasan internal hanya akan melemahkan moral pasukan dan merusak citra TNI di mata rakyat.
Pihak TNI AD juga memastikan bahwa keluarga almarhum akan mendapatkan perhatian penuh, baik dalam proses pemakaman secara militer maupun hak-hak kedinasan lainnya. Namun, bagi keluarga, keadilan hukum terhadap pelaku adalah hal yang paling utama.
