Gempuran Israel di Gaza Tewaskan Lebih dari 70.000 Nyawa

Gempuran Israel di Gaza Tewaskan Lebih dari 70.000 Nyawa

GARIS NARASI – Gaza Health Ministry (Kementerian Kesehatan Gaza) melaporkan bahwa sejak konflik antara Israel Defense Forces (IDF) dan Hamas meletus pada 7 Oktober 2023, jumlah warga Palestina yang tewas di Gaza Strip telah melewati angka 70.000 jiwa. Menurut pernyataan resmi pada 29 November 2025, angka korban tewas telah mencapai sekitar 70.100 orang.

Serangan udara Israel kembali terjadi dengan dalih adanya pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan tersebut. Salah satu serangan drone yang terjadi pada Sabtu (29/11/2025) menewaskan dua anak bersaudara, Fadi dan Juma Abu Assi, saat keduanya sedang mengumpulkan kayu bakar.

“Kedua anak itu terbunuh di wilayah timur Khan Younis, Gaza selatan. Mereka hanya mencari kayu untuk keperluan rumah,” ujar pihak keluarga.

Media lokal melaporkan, Fadi berusia 8 tahun, sedangkan Juma berusia 10 atau 11 tahun. Keduanya dimakamkan di Rumah Sakit Nasser pada hari yang sama.

Mengapa Korban Terus Bertambah Meski Gencatan Senjata

Meskipun gencatan senjata yang dimediasi oleh pihak internasional telah mulai berlaku sejak 10 Oktober 2025, serangan udara dan operasi militer oleh pasukan Israel dilaporkan masih terus terjadi di Gaza. Dalam 48 jam terakhir saja, dua jenazah baru dibawa ke rumah sakit, satu di antaranya ditemukan di bawah reruntuhan menunjukkan bahwa banyak korban sebelumnya belum teridentifikasi dan terus ditemukan seiring upaya evakuasi.

Kementerian juga menyebut bahwa sejak gencatan senjata berlaku, setidaknya 354 warga Palestina kembali tewas akibat serangan Israel. Angka korban luka juga tinggi lebih dari 170.900 orang dilaporkan mengalami cedera sejak perang dimulai.

Dampak Kemanusiaan & Krisis di Gaza

Reruntuhan gedung, rumah, dan infrastruktur vital kini menjadi pemandangan umum di Gaza. Banyak warga kehilangan tempat tinggal, dan layanan dasar seperti kesehatan, listrik, air bersih telah hancur atau sangat terbatas. Hal ini memperburuk penderitaan warga sipil yang selamat dari serangan.

Bagi banyak keluarga, korban tidak hanya kehilangan anggota tetapi juga sumber pendapatan, tempat tinggal, dan masa depan anak-anak mereka. Situasi ini memicu krisis kemanusiaan besar: kelaparan, penyakit, dan ketidakpastian masa depan menjadi kenyataan sehari‑hari.

Kontroversi dan Tantangan Verifikasi Data

Meski angka resmi menyebut 70.100 tewas, pihak Israel mempertanyakan keakuratan data dari Gaza, menuding kemungkinan adanya ekses pelaporan. Di sisi lain, klaim dari Gaza didukung oleh badan kesehatan setempat, dan otoritas internasional telah menyatakan angka tersebut sebagai “wajar” berdasarkan kondisi medis dan kemanusiaan di lapangan.
Proses verifikasi sangat sulit banyak korban yang baru ditemukan di bawah reruntuhan, identitas sering tak bisa ditentukan, dan akses ke lokasi berbahaya terus dibatasi.

Reaksi Internasional dan Seruan Perdamaian

Angka korban jiwa yang mencengangkan telah memicu kecaman dari banyak negara dan organisasi internasional. Seruan untuk penghentian kekerasan serta bantuan kemanusiaan mendesak semakin kuat.
Para mediator global kembali dipanggil untuk menengahi agar gencatan senjata ditaati sepenuhnya; serta memfasilitasi akses bantuan bagi warga Gaza yang kelaparan dan terluka.

Tekanan internasional juga meningkat terhadap pihak yang melakukan kekerasan, dengan seruan bagi akuntabilitas atas dugaan pelanggaran HAM dan kejahatan perang.