Ngeri! Perumahan Subsidi di Bekasi Terendam Banjir Bak Danau

Ngeri! Perumahan Subsidi di Bekasi Terendam Banjir Bak Danau

GARIS NARASI – Warga perumahan subsidi di beberapa kawasan Kabupaten Bekasi tengah menghadapi ujian berat akibat banjir besar yang memperparah kondisi lingkungan permukiman mereka. Kawasan yang awalnya dijanjikan bebas banjir kini berubah bak danau raksasa, menenggelamkan rumah warga hingga setinggi leher orang dewasa dan memutus akses jalan utama.

Peristiwa ini terjadi setelah hujan deras mengguyur wilayah Bekasi dan sekitarnya pada beberapa hari terakhir, serta disertai luapan sungai yang tak mampu menampung volume air yang masuk. Dampaknya sangat nyata di Desa Sukamekar, Kecamatan Sukawangi dan beberapa perumahan subsidi lain, seperti Green Lavender, Grand Natura, dan Mutiara Indah.

Banjir Setinggi Dua Meter, Ribuan KK Terdampak

Menurut laporan petugas setempat, ketinggian banjir di beberapa titik permukiman sempat mencapai 2 meter, terutama di dekat bantaran Sungai Cikarang Bekasi Laut (CBL). Di kawasan ini, sejumlah rumah nyaris seluruhnya tenggelam, memaksa warga menyelamatkan barang berharga dan berlindung di tempat lebih tinggi.

Akibatnya, sekitar ribuan kepala keluarga (KK) merasa terjebak karena debit air yang terus tinggi. Evakuasi dilakukan dengan perahu dan bantuan SAR di sejumlah titik, namun banjir belum sepenuhnya surut hingga berita ini ditulis.

Perumahan Subsidi: Janji Bebas Banjir yang Tak Terwujud

Warga perumahan Green Lavender Sukamekar yang merupakan salah satu lokasi terdampak parah mengeluhkan realitas pahit yang mereka alami: rumah subsidi yang dibeli dengan melalui kredit kini justru menjadi rumah yang selalu dilanda banjir berulang kali.

Banjir di perumahan ini disebut telah terjadi setidaknya tiga kali sejak kawasan tersebut dihuni, bahkan meskipun pengembang perumahan pernah mengklaim kawasan ini “bebas banjir”. Kekecewaan warga makin menjadi karena banyak dari mereka telah terikat dengan cicilan kredit rumah subsidi, sehingga merasa tidak punya pilihan untuk pindah meski lingkungan hidup semakin buruk.

Kerusakan Infrastruktur dan Rumah Warga

Tak hanya soal air tinggi saja, dampak banjir juga menimbulkan kerusakan fisik pada rumah warga. Laporan terbaru mengungkapkan bahwa dinding rumah di Green Lavender banyak yang jebol akibat tekanan air yang kuat dan gelombang banjir yang terlalu tinggi. Sebagian rumah yang baru dibangun dalam beberapa tahun terakhir kini mengalami kerusakan serius.

Menurut salah satu warga, ratusan unit rumah telah mengalami kerusakan signifikan, bahkan sebagian rumah yang baru ditempati sejak 2024 sampai 2025 kini hampir roboh atau memerlukan perbaikan besar.

Akses Jalan Terputus dan Aktivitas Lumpuh

Genangan air tidak hanya merendam rumah warga namun juga menutup akses jalan utama di depan perumahan, membuat kendaraan tak bisa lewat. Di beberapa titik, jalur transportasi lokal terputus total sehingga aktivitas warga lumpuh dan pasokan logistik terganggu.

Dalam kondisi seperti ini, warga terpaksa menyelamatkan perabotan dan bahan makanan secara mandiri sembari menunggu bantuan dari pihak berwenang dan organisasi kemanusiaan.

Tanggapan Pemerintah Daerah dan Solusi yang Ditawarkan

Menanggapi banjir yang semakin parah, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (KDM) turun langsung memberikan respon. Ia menyebut kejadian banjir di perumahan ini sebagai “Hantu Banjir” yang harus segera ditangani.

Menurut dia, salah satu penyebab banjir parah di kawasan Bekasi adalah alih fungsi lahan yang tak tepat, seperti pemanfaatan sawah, rawa, dan bantaran sungai untuk pembangunan perumahan. Penyempitan jalur air akibat sedimentasi dan pembangunan telah membuat sungai cepat meluap saat hujan deras.

Sebagai langkah penanganan, Pemerintah Provinsi Jawa Barat mengusulkan sejumlah strategi, termasuk:

  • Normalisasi dan pelebaran sungai, sekaligus pembongkaran bangunan yang berada terlalu dekat dengan jalur air.
  • Tindakan tegas terhadap pengembang yang menjual rumah dengan janji bebas banjir namun tidak bertanggung jawab atas kondisi nyata di lapangan.
  • Perubahan tata ruang yang lebih ketat, terutama menghindari pembangunan di lahan yang rawan banjir.
  • Mengadvokasi pembangunan vertikal seperti rusun atau apartemen di kawasan padat penduduk sebagai alternatif hunian yang lebih aman dari banjir.

Harapan Warga dan Bantuan yang Diperlukan

Sementara itu, warga terdampak terus berharap ada bantuan logistik segera dari pemerintah pusat dan daerah, seperti makanan siap saji, air bersih, dan dukungan untuk pemulihan rumah yang rusak. Hingga saat ini, bantuan baru sebagian disediakan melalui organisasi lokal dan pihak RW.

Warga juga menyerukan adanya evaluasi serius terhadap pola pembangunan hunian subsidi di wilayah rawan banjir, agar tragedi serupa tak terulang di masa mendatang.