Prabowo: Bersatu Jadi Kunci Indonesia Ekonomi Ke-4 Dunia

Prabowo Bersatu Jadi Kunci Indonesia Ekonomi Ke-4 Dunia

GARIS NARASI – Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, kembali menegaskan optimisme besarnya terhadap masa depan ekonomi nasional. Dalam pidatonya di acara Puncak Peringatan Natal Nasional Tahun 2025 yang digelar di Tennis Indoor Senayan, Jakarta, pada Senin malam (5/1/2026), Presiden menyatakan bahwa Indonesia memiliki segala persyaratan untuk menjadi negara dengan ekonomi terbesar keempat di dunia. Namun, ia memberikan catatan kritis: target tersebut hanya bisa dicapai jika seluruh elemen bangsa, terutama para elite politik, mampu bersatu dan bekerja sama.

Ramalan Pakar Dunia dan Potensi Luar Biasa

Pernyataan ini bukan sekadar retorika politik. Presiden Prabowo mengungkapkan bahwa predikat sebagai calon raksasa ekonomi dunia tersebut didasarkan pada berbagai kajian geopolitik dan analisis ekonomi internasional.

“Pakar-pakar geopolitik di dunia melihat Indonesia ini luar biasa, sangat kaya. Berbagai kajian menyebutkan kita berpotensi menjadi negara keempat terkaya di dunia dalam beberapa dekade mendatang,” ujar Presiden di hadapan ribuan hadirin.

Indonesia memang sering diprediksi oleh lembaga global seperti Goldman Sachs, PwC, dan McKinsey akan masuk ke jajaran “Big Four” ekonomi dunia pada tahun 2045, bersanding dengan Tiongkok, India, dan Amerika Serikat. Potensi ini didorong oleh kekayaan sumber daya alam yang melimpah, bonus demografi, serta posisi strategis di jalur perdagangan global.

Persatuan Elite: Kunci Utama Transformasi

Meskipun potensi tersebut terpampang nyata, Presiden Prabowo menekankan bahwa kekayaan alam saja tidak cukup. Ia menyoroti bahwa sejarah sering menunjukkan bangsa yang kaya bisa runtuh jika terjadi perpecahan internal. Oleh karena itu, ia menitikberatkan pentingnya persatuan para pemimpin dan elite bangsa sebagai syarat utama.

“Syaratnya adalah apabila bangsa Indonesia bisa bersatu. Terutama apabila elitenya bisa bekerja sama,” tegasnya.

Ia menambahkan bahwa kompetisi politik adalah hal yang wajar dalam demokrasi, namun setelah kompetisi selesai, semua pihak harus kembali merapat untuk membangun negara.

Presiden mengajak seluruh pihak untuk melupakan perbedaan dan kesalahan di masa lalu demi kepentingan yang lebih besar.

“Apapun perbedaan kita, apapun mungkin dosa-dosa kita di masa lalu, kita harus bekerja sama, kita harus kompak, kita harus bahu-membahu. Yang kuat tarik yang lemah, yang lemah berhimpun kerja sama,” lanjutnya.

Menghilangkan Kemiskinan dan Kelaparan

Visi menjadi negara terkaya dunia bagi Prabowo bukan sekadar angka statistik di atas kertas atau pertumbuhan PDB semata. Ia menekankan bahwa kemakmuran tersebut harus dirasakan langsung oleh rakyat kecil hingga ke pelosok negeri.

Target utama dari penguatan ekonomi ini adalah:

  1. Menghilangkan kemiskinan ekstrem dari bumi Indonesia.
  2. Menghapus kelaparan melalui swasembada pangan yang berkelanjutan.
  3. Pengelolaan kekayaan negara agar tidak hanya mengalir ke luar negeri, tetapi dikelola di dalam negeri untuk nilai tambah (hilirisasi).

“Jangan kita bangga dengan hanya kata-kata kaya. Kita harus berjuang agar kekayaan itu benar-benar dinikmati oleh seluruh rakyat Indonesia,” kata Presiden yang disambut sorak sorai hadirin.

Langkah Nyata: Hilirisasi dan Swasembada

Sebagai bagian dari strategi mencapai visi tersebut, pemerintah di bawah kepemimpinan Prabowo terus menggenjot program hilirisasi komoditas strategis. Tidak hanya di sektor pertambangan seperti nikel dan tembaga, tetapi juga merambah ke sektor pertanian dan kelautan.

Selain itu, dalam kesempatan yang sama, Presiden juga sempat menyinggung keberhasilan Indonesia dalam mencapai swasembada beras pada tahun 2025, yang dianggap sebagai fondasi penting bagi ketahanan nasional di tengah krisis pangan global yang menghantui banyak negara.

Tantangan Global dan Semangat Gotong Royong

Presiden mengingatkan bahwa tantangan ke depan tidaklah mudah. Perubahan iklim, ketegangan geopolitik di berbagai belahan dunia, serta ancaman krisis energi adalah hambatan nyata. Namun, dengan semangat gotong royong dan “Ekonomi Pancasila” yang berasaskan kekeluargaan, ia yakin Indonesia bisa melompat menjadi negara maju lebih cepat dari yang diperkirakan.

Menutup pidatonya, Prabowo meminta seluruh masyarakat untuk tetap optimistis dan tidak mudah diadu domba oleh kepentingan-kepentingan yang ingin melihat Indonesia lemah. Persatuan nasional, menurutnya, adalah “senjata rahasia” Indonesia yang paling ampuh.