GARIS NARASI – Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, secara resmi mengumumkan bahwa Indonesia telah kembali mencapai status swasembada pangan, khususnya pada komoditas beras, per Januari 2026. Pengumuman bersejarah ini disampaikan langsung oleh Presiden dalam acara Panen Raya di Kabupaten Karawang, Jawa Barat, pada Rabu (7/1/2026).
Dalam pidatonya yang berapi-api di hadapan ribuan petani dan pejabat negara, Presiden Prabowo menegaskan bahwa ketergantungan pada impor pangan di tengah kekayaan alam Indonesia yang melimpah adalah sebuah ironi yang tidak masuk akal. Beliau menekankan bahwa swasembada bukan sekadar target ekonomi, melainkan syarat mutlak bagi kemerdekaan sejati sebuah bangsa.
Ironi Negara Kaya yang Terus Impor
Presiden Prabowo mengungkapkan rasa keprihatinannya terhadap kebijakan pangan masa lalu yang dinilai kurang berani dalam mendorong kemandirian. Menurutnya, sebagai negara dengan tanah yang subur dan sumber daya manusia yang besar, Indonesia seharusnya tidak lagi mengemis pasokan pangan dari negara lain.
“Saya katakan berkali-kali, tidak masuk akal bagi saya. Kita ini negara kaya, kita diberi karunia oleh Yang Maha Kuasa tanah yang subur, air yang melimpah, tapi kita terus-menerus impor pangan. Ini tidak masuk akal dan tidak boleh kita biarkan terus terjadi,” tegas Prabowo di Karawang.
Beliau menambahkan bahwa kemandirian pangan adalah pilar utama pertahanan negara. Beliau merujuk pada pengalaman pandemi COVID-19 beberapa tahun lalu, di mana negara-negara pengekspor pangan menutup keran ekspor mereka untuk mengamankan stok dalam negeri, yang sempat membuat Indonesia berada dalam posisi rentan.
Capaian Satu Tahun: Melampaui Target
Capaian swasembada beras ini tergolong sangat cepat. Awalnya, pemerintah menargetkan swasembada pangan dalam waktu empat tahun masa jabatan. Namun, melalui konsolidasi kebijakan yang agresif di bawah Kabinet Merah Putih, target tersebut berhasil dicapai hanya dalam waktu satu tahun.
Berdasarkan data yang dilaporkan, sepanjang tahun 2025 Indonesia tidak melakukan impor beras sama sekali. Produksi beras nasional pada tahun 2025 tercatat mencapai 34,71 juta ton, yang merupakan angka tertinggi dalam sejarah produksi pangan Indonesia. Saat ini, Cadangan Beras Pemerintah (CBP) di gudang Bulog tercatat mencapai lebih dari 3 juta ton, melampaui cadangan di era Orde Baru.
Strategi Pertanian Modern dan Kesejahteraan Petani
Keberhasilan ini, menurut Presiden, merupakan hasil dari kerja keras para petani sebagai pahlawan pangan nasional, yang didukung oleh modernisasi alat mesin pertanian (alsintan) dan perbaikan sistem distribusi pupuk. Pemerintah telah memastikan ketersediaan pupuk yang cukup dengan harga terjangkau bagi petani di seluruh pelosok negeri.
“Terima kasih kepada para petani. Kalian adalah tulang punggung bangsa. Hari ini kita buktikan kepada dunia bahwa kita bisa berdiri di atas kaki sendiri,” ujar Presiden.
Selain beras, pemerintah kini mulai mengalihkan fokus untuk mencapai swasembada pada komoditas strategis lainnya, seperti jagung, kedelai, dan bawang putih. Presiden juga menginstruksikan percepatan pembangunan 1.100 Kampung Nelayan Modern (KNMP) untuk memperkuat ketahanan protein nasional guna mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Menuju Indonesia Emas 2045
Dalam penutup pidatonya, Prabowo mengingatkan bahwa swasembada pangan hanyalah langkah awal dari visi besar Indonesia Emas 2045. Beliau juga memberikan peringatan keras kepada pihak-pihak yang mencoba melakukan penyelewengan di sektor pangan. Presiden menegaskan bahwa anggaran rakyat harus benar-benar sampai ke tangan petani dan dinikmati oleh seluruh rakyat.
“Tidak ada bangsa yang merdeka kalau rakyatnya tidak bisa makan dari tanahnya sendiri. Kita sudah memulai, dan kita tidak akan kembali ke era ketergantungan,” pungkasnya.
