GARIS NARASI – Bencana banjir bandang dan longsor yang melanda wilayah Sumatra Utara dalam beberapa hari terakhir telah memicu gelombang pengungsian massif, dengan ribuan warga terdampak dan korban jiwa yang terus bertambah. Warga yang terdampak kini menyerukan pertolongan kepada pemerintah daerah“Pak Bupati, tolong kami”sambil mempertanyakan: apakah bencana ini semata efek dari cuaca ekstrem, atau justru akibat kerusakan hutan dan tata guna lahan yang buruk?
Ribuan Mengungsi, Belasan Dipastikan Meninggal
Menurut data sementara dari lembaga penanggulangan bencana, setidaknya 2.851 warga dari beberapa kabupaten/kota di Sumatra Utaratermasuk di wilayah Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah, Tapanuli Utara dan kota Sibolgatelah terpaksa meninggalkan rumah mereka dan mengungsi ke tempat penampungan darurat.
Sementara itu, jumlah korban jiwa sudah mencapai 34 orang tewas, dengan puluhan lainnya masih dinyatakan hilang dan dalam pencarian. Kondisi makin parah karena akses jalantermasuk jembatanbanyak yang terputus, mempersulit upaya evakuasi dan distribusi bantuan.
Di sejumlah desa, banjir bandang datang begitu cepat sehingga rumah-rumah hanyut bersama pohon besar dan material longsormenyisakan trauma mendalam bagi warga yang selamat. Beberapa warga menggambarkan situasi sebagai “bencana terbesar dalam beberapa dekade terakhir,” sesuatu yang menurut mereka “belum pernah terjadi sebelumnya.”
Penyebab: Cuaca Ekstrem, Kerusakan Lingkungan, atau Keduanya?
Penyebab resmi yang dipaparkan oleh instansi terkait mengarah pada cuaca ekstrem. Menurut analisis awal, hujan deras terjadi sebagai dampak dari fenomena meteorologistermasuk gangguan cuaca yang menyebabkan volume curah hujan melampaui ambang normalsehingga memicu luapan sungai, banjir, dan longsor.
Namun pendapat berbeda datang dari kalangan aktivis lingkungan, seperti organisasi WALHI Sumatra Utara. Menurut mereka, bencana ini tidak bisa dilepaskan dari kerusakan hutan dan perubahan tata guna lahan yang masif dalam beberapa tahun terakhirtermasuk aksi penebangan kayu, pertambangan, dan pembangunan infrastruktur yang merusak tutupan vegetasi alam.
Menurut laporan WALHI, hutan yang dulu mampu menyerap air hujan kini banyak yang hilang, sehingga saat hujan deras datang, air langsung mengalir ke sungai dan lerengmempercepat terjadinya longsor dan banjir bandang. Bukti yang disebut antara lain: batang kayu besar yang terbawa arus ke pemukiman, serta tanah longsor di area bukit yang dulunya berhutan lebat.
Dengan demikian, sebagian warga dan pengamat menilai bahwa penyebab bencana kali ini adalah kombinasi antara cuaca ekstrem dan kerusakan lingkungan akibat manusiasebuah alarm bagi pengelolaan lingkungan dan kebijakan kehutanan di daerah rawan bencana.
Tangisan dari Pengungsian: Permohonan Tolong ke Pemerintah Daerah
Di pos-pos pengungsian darurat, puluhan keluarga bergiat menyelamatkan barang-barang seadanyadokumen, identitas, dan kebutuhan pokok. Banyak dari mereka kehilangan rumah, ladang, dan mata pencaharian. Seorang warga yang selamat, dengan suara terbata-bata, mengatakan:
“Rumah saya hanyut dalam semalam. Sekarang anak-anak tidur di lantai tanah. Pak Bupati, tolong kami. Kami ingin pulang, tapi tak punya rumah lagi.”
Seruan “pak Bupati, tolong kami” bukan hanya ekspresi kesedihantetapi juga harapan agar pemerintah segera memberikan bantuan nyata: perumahan sementara, pemulihan infrastruktur dasar (jalan dan jembatan), serta jaminan keamanan lingkungan agar tragedi serupa tak terjadi lagi.
Pemuka lokal dan tokoh masyarakat sudah mulai mendorong agar dilakukan audit lingkungan di kawasan terdampaktermasuk peninjauan ulang izin pertambangan dan penebangan, serta reboisasi jika diperlukan. Warga juga meminta transparansi dalam proses bantuan: siapa mendapat bantuan dulu, dan bagaimana alokasi diatur agar adil.
Tantangan Pemulihan: Infrastruktur Rusak & Risiko Bencana Susulan
Pemulihan pascabencana menghadapi tantangan berat. Banyak jalan dan jembatan rusak, membuat akses darat lumpuhdan mempersulit distribusi logistik serta evakuasi. Hujan ekstrem masih diperkirakan akan berlangsung dalam beberapa hari ke depan, sehingga potensi banjir susulan dan longsor tambahan tetap tinggi. Otoritas bencana telah mengimbau warga di lereng atau dekat sungai untuk tetap siaga dan, jika memungkinkan, mengungsi ke tempat aman.
Di sisi lain, proses pemulihanpembangunan rumah baru, memperbaiki jalan, dan merehabilitasi lingkunganmembutuhkan dana besar, koordinasi antar lembaga, serta komitmen pemerintah daerah. Warga berharap tidak hanya mendapat bantuan sesaat, tetapi juga jaminan perubahan kebijakan lingkungan jangka panjang.
