Update Banjir dan Longsor Sumatera: Korban Jiwa Tembus 804

Update Banjir dan Longsor Sumatera Korban Jiwa Tembus 804

GARIS NARASI – Bencana hidrometeorologi parah berupa banjir bandang dan tanah longsor yang melanda tiga provinsi di Pulau Sumatera Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat terus menyajikan angka kerugian jiwa yang memilukan. Hingga Rabu (3/12/2025) sore, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan bahwa jumlah korban meninggal dunia telah mencapai 804 jiwa, sementara sedikitnya 634 orang lainnya masih dinyatakan hilang dan dalam pencarian.

Tragedi ini dipicu oleh curah hujan ekstrem yang terjadi selama beberapa hari berturut-turut pada akhir November lalu, menyebabkan sungai-sungai meluap dan memicu tanah longsor di banyak titik, terutama di kawasan hulu dan Daerah Aliran Sungai (DAS) yang telah mengalami kerusakan lingkungan.

Data Korban dan Kerusakan Infrastruktur

Data rekapitulasi BNPB menunjukkan peningkatan signifikan korban jiwa dan kerusakan infrastruktur di seluruh wilayah terdampak. Provinsi Sumatera Utara, khususnya di wilayah Tapanuli dan Sibolga, menjadi daerah dengan jumlah korban terbanyak.

Selain korban jiwa, tercatat sekitar 2.600 orang mengalami luka-luka dan saat ini tengah mendapat perawatan medis. Lebih dari 580.000 jiwa tercatat mengungsi, tersebar di ratusan posko darurat di ketiga provinsi tersebut. Mereka membutuhkan bantuan mendesak berupa makanan, air bersih, pakaian, dan layanan kesehatan.

Dampak fisik bencana juga sangat masif:

  • Lebih dari 9.600 unit rumah dilaporkan rusak, dengan rincian ribuan unit rusak berat, sedang, dan ringan.
  • Infrastruktur vital seperti 299 jembatan, 323 fasilitas pendidikan, dan 129 fasilitas ibadah mengalami kerusakan parah atau terputus total.
  • Kerusakan ini menghambat akses logistik dan upaya penyelamatan, membuat sebagian wilayah masih terisolasi.

Upaya Pencarian dan Penanganan Darurat Diperkuat

Tim gabungan dari Basarnas, TNI, Polri, dan relawan terus bekerja tanpa henti di tengah tantangan cuaca buruk dan medan yang sulit. Operasi pencarian difokuskan pada wilayah yang dicurigai sebagai lokasi timbunan longsor dan puing-puing banjir bandang. Pengerahan anjing pelacak (K-9) dan alat berat terus dilakukan untuk menemukan korban yang hilang.

Pemerintah pusat melalui kementerian dan lembaga terkait menegaskan status penanganan darurat nasional. Sebelas helikopter telah dikerahkan untuk mendistribusikan bantuan logistik dan evakuasi ke daerah-daerah yang akses daratnya terputus, seperti di Aceh Tamiang dan beberapa desa terpencil di Sumatera Barat dan Sumatera Utara. Sekretaris Kabinet, Teddy Indra Wijaya, memastikan bahwa Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) mencukupi untuk penanganan dampak bencana, termasuk untuk rehabilitasi dan rekonstruksi.

Sorotan pada Kerusakan Lingkungan

Faktor penyebab bencana ini tidak hanya didominasi oleh cuaca ekstrem. Menteri Lingkungan Hidup (KLH) dan sejumlah pakar hidrologi dari universitas ternama menyoroti dugaan kuat bahwa kerusakan ekosistem hutan di wilayah hulu DAS telah menjadi faktor utama yang memperparah dampak banjir dan longsor.

Menteri KLH, Hanif Faisol Nurofiq, bahkan telah mencabut izin pengelolaan lingkungan terhadap beberapa perusahaan yang diduga berkontribusi pada deforestasi dan memperburuk kondisi bencana. Penyelidikan mendalam terhadap sumber kayu gelondongan yang ikut terseret dalam banjir bandang juga tengah diusut. Para ahli mendesak perlunya rehabilitasi lahan kritis dan reforestasi di area tangkapan air sebagai langkah mendesak untuk memulihkan fungsi hutan sebagai pengendali daur air jangka panjang.

Tragedi ini menjadi alarm merah bagi Indonesia, menekankan pentingnya keseimbangan antara pembangunan dan kelestarian lingkungan demi keselamatan masyarakat.

UPDATE: Tim SAR akan melanjutkan operasi pencarian intensif pada Kamis pagi, dengan fokus utama di wilayah tumpukan puing dan lumpur yang tersisa.